Sabtu, 12 Oktober 2013

Rok Biru hingga Jubah Toga

Rok biru kita menjadi awal, hingga kini jubah togamu menjuntai mempertahankan persahabatan.


Selamat wisuda Zara Bunga Namira S.Pd. Hari itu kau pasti sangat cantik. Dengan riasan paling indah untuk hari yang sangat special. Hari yang dipenuhi semerbak wangi, tangkai-tangkai bunga, kebaya warna-warni dan tentu saja yang paling terlihat gagah si Toga warna hitam. 

Hari itu kau pasti sangat bahagia karena sekelilingmu dipenuhi senyum tulus manusia. Pun juga binaran mata yang sungguh cemerlang. Ditambah lagi suara-suara merdu penuh doa. Doa yang memberimu selamat telah menyelesaikan studi dengan lancar. Dan doa yang mengiringmu ke kehidupan yang kata orang keras.

Sayangnya aku tidak disana ya, menyaksikan tali topi wisudamu berpindah dari kiri ke kanan. Aku tidak ada untuk memberimu bunga. Memberi pelukan khas teman yang rasanya sungguh hangat. Ikut tersenyum lebar dalam kamera. Tentu saja kau selalu berdiri di tengah. Menjadi primadona yang dikelilingi dayang-dayangnya. Dan kau adalah orang yang paling dicari, paling dilihat hari itu.

Kado dari langit Dieng (edited by The)
Hai Zara Bunga Namira S.Pd., kau tahu. Aku pernah berdoa pada Tuhan. Berdoa untuk bisa selalu hadir ketika ada moment-moment penting berlangsung. Mulai dari wisuda, ijab khobul, resepsi, empat bulanan hamil, kelahiran anak pertama, dan seterusnya. Tapi baru mulai kau memakai toga saja aku sudah gagal. Tapi aku selalu berusaha. Kau percaya kan? Kita kan sudah berteman dari jaman pakai rok biru.

Walaupun sudah beberapa hari berselang dari hari bahagia itu, rasanya masih bisa ya aku memberimu ucapan selamat. Memberi pelukan jarak jauh. yang diwakilkan oleh tangan Tuhan. Lebih hangat. Tentu saja.
 

Jumat, 11 Oktober 2013

S.E. lamat Nad,,

Selamat bertambah nama di belakang ya Nadhia Ayu Tika Baswartono S.E
Namamu semakin panjang saja ya Nad..ngga kebayang kalau nulis namamu di LJK bakalan selama apa.
Tapi tambahan nama belakang ini pasti rasanya menyenangkan bukan? Coba hirup udara pagi ini. Rasanya berbeda tidak? lebih lega, lebih halus dan lebih nikmat. Tambahan nama ini memang menyenangkan.

Kau seperti apa Nad saat itu? Menangiskah? Kagetkah? Senyumkah? saat diumumkan bahwa kau lulus sidang skripsi? Yang jelas kau pasti sangat bersyukur. Ah pasti kau bahagia sekali saat itu. Sayang tidak bisa di sana. Janji dengan manusia lain sudah terpatri sebelumnya yang mengharuskanku tidak datang.

Tapi untuk membayar itu semua aku ingin memberimu ini. Mungkin sederhana dan tidak bisa menggantikanku di sana. Aku mencoba menyampaikan doa-doamu ke langit. Menembus awan. Membawanya sampai di sana. Di Negeri di Atas Awan.
Salam manis dari Puncak Si Kunir (Dieng)

Selasa, 24 September 2013

Pilihanmu



Akhirnya hari itu datang juga. Hari yang sangat ingin kuhindari. Hari dimana sebuah pilihan diambil. Kita selalu memilih. Tentu saja denganmu yang kala itu memilih untuk mengatakan tidak bisa. Ya, sahabat wanitaku telah memilih.

Pertemanan kita sudah empat tahun. Kita sudah tahu luar dalam. Bahkan yang mungkin tidak diketahui keluargaku. Tiap hari kita bercerita, tiap hari kita bersama. Bisa dikata separuh hidupku diusia akhir belasan hingga awal duapuluhan kulalui bersamamu. Sampai pada hari itu aku sadar. Aku harus mengalah pada sebuah pilihan.

Aku punya teman laki-laki. Teman yang baru kukenal beberapa minggu saja. Dari sebuah komunitas sosial. Dengan segala sifat buruk yang melekat pada dirinya pada dasarnya dia orang yang baik. Aku mengenalkannya pada sahabat wanitaku. Dan tentu saja kita jadi sering jalan bersama. Bertiga.

Orang-orang mengira aku menyukai lelaki itu. Hanya karena dia satu-satunya laki-laki yang sering menjemputku di tempat kerja dan sering main ke kosan. Tanpa mereka tahu aku sedang menjodohkannya dengan sahabat wanitaku. Awalnya wanita ini menolak. Katanya lelaki itu terlalu keras kepala. Sama sepertinya. Dia juga merasa lelaki ini menyukaiku. Ku yakinkan dia. Bahwa dia lelaki baik-baik. Tapi itu malah membuatnya semakin yakin kita berdua cocok.

Seiring berjalannya waktu tanpa kuketahui mereka sudah jalan dua kali. Aku kaget saat mendengar ceritanya. Bahagia karena semuanya semakin jelas adanya. Kau bercerita hampir tiap hari. mengetok kamarku malam-malam hanya untuk bercerita bahawa hari ini kalian SMSan. Menceritakan betapa bahagianya dirimu saat tau dia mulai tertarik padamu. Kau jadi berkali lipat mendatangi kamarku yang selalu terbuka untukmu jam berapapun. kaupun sudah tak sungkan bercerita padaku tentangnya, yang dulu kau kira aku dan dia saling menyukai.

Hingga pada suatu hari aku mendapat pesan singkat dari seorang teman bahwa kalian berdua jadian. Aku tak percaya secepat ini. Walau memang aku tahu kalian sama-sama serius dengan hubungan belakangan ini. Mereka berdua memang selalu bercerita kepadaku. Namun yang paling aku sayangkan adalah aku tahu dari orang lain. Itu sudah membuatku agak kesal. Tapi aku tahu bahwa pasti ada alasan dia memberitahuku belakangan.

Beberapa minggu berselang. Aku merasa ada yang hilang. Ada bagian dari tubuhku yang mencari-cari sesuatu. Melihat kalian berdua pergi bersama membuatku menjadi cemburu. Ya aku cemburu. Sangat cemburu. Tiba-tiba kalian seakan menjauh. Ada rahasia yang hanya kalian yang tahu kini. Ada mimpi baru dikehidupan kalian tanpa melibatkan aku. Aku cemburu dengan semua itu.

Salah seorang teman dari kamar nomor lima berkata padaku. Kamu suka ya sama cowok itu? Ku jawab. Tidak. Dia hanya teman. Lalu kenapa kamu cemburu. Aku diam. Apa selama ini memang benar kata orang bahwa aku juga menyukainya?

Aku berpikir berhari-hari. terkadang sampai tak bisa tidur. Namun semakin keras berpikir aku semakin yakin aku tidak menyukainya. Lalu apa yang selama ini membuatku cemburu melihat mereka berdua? Ternyata jawabanya adalah tidak ada lagi obrolan via pesan singkat dengan mereka berdua. Tiada lagi ketokan tengah malam untuk sekedar bercerita tentang hari yang telah dilewati. Tidak ada lagi tawa lepas. Tidak ada lagi makan malam bersama. Tidak ada lagi cerita. Ya aku kehilangan persahabatan empat tahunku.

Aku mencoba memperbaikinya. Mengetok kamarnya. Mengajaknya makan malam. Pura-pura ingin bercerita. Tapi semua rasanya hambar. Ketika saat aku datang berkali-kali dan malah suasana hening yang datang menyambutnya. Kau malah asik berkirim pesan singkat dengan seseorang di seberang sana.

Bahkan dihari yang menurut orang penting. Hari dimana berkurangnya usia manusia. Hari berkurangnya usiaku, kaupun memilih dia. Saat aku mengajakmu makan bersama teman-teman yang lain. kau menolakku. Kutanya, ada acara apa? “Aku mau pergi dengannya.” Oh. Mengapa harus hari ini. bisakah kau tunda dulu bertemu dengannya karena rencana ini sudah dari jauh hari. jadi kuputuskan untuk menunggumu. Untuk bisa merayakannya bersama. Aku tidak mau merayakannya tanpa sahabat empat tahunku.

Hingga pada suatu hari aku tahu kebenarannya. Dari salah seorang teman dari kamar nomor lima. “Kamu tahu, semalam dia bercerita padaku.” Apa? Tanyaku. “Dia sangat menyukai pacarnya.” Oh. Kataku. “Lalu aku bertanya.” Dia melanjutkan. “Mengapa sekarang kau tak pernah terlihat bersamamu (aku)? Kau tau apa jawabnya. Aku sudah memilih. Aku memilih pacarku. Jika aku memilih dia (aku) apa yang akan kudapatkan. Pacarku itu masa depanku. Dan dia masa laluku.” Aku hanya diam. Berkali-kali menghela nafas panjang. Sakit rasanya. Persahabatan empat tahun dihancurkan dengan perkenalan beberapa minggu. Mengapa kau terlalu bodoh hanya untuk memilih satu orang saja. Mengapa kau tak memilih keduanya. Tetap bersamanya dan bersamaku.

We called it bestfriend
Tapi pada akhirnya aku memakluminya berbuat itu. Butuh proses yang lama dan panjang. Proses penuh kecemburuan yang terkadang disalah artikan orang. Dikiranya aku menyukai lelaki itu, padahal aku cemburu dengan hilangnya sahabat empat tahunku. Hingga pada suatu titik aku sadar. Untuk menghentikan segala khayalan gila. Tentang persahabatan puluhan tahun. Tentang pengorbanan untuk seorang sahabat. Tentang mimpi-mimpi jalan-jalan keluar kota. Tentang menikmati indahnya negeri orang. Yang kini sudah kau rajut bersamanya. Ya, di titik itu aku memutuskan untuk cukup. Dan mencoba bersahabat dengan sebuah pilihan.

“Jika kau disuruh memilih mana yang kau pilih, sahabat atau pacar?”
“Aku memilih keduanya” (Tao Ming Tse)

Aku = Alya
Sahabat 4 tahun = Mira
Teman lelaki = Farhan
Teman kamar nomor lima = Lili

Rabu, 29 Mei 2013

Pergilah Kau (Sherina)

dari kemarin mengalun terus lagu ini di kepala.

Pergilah Kau
(Sherina)

Tak mau lagi aku percaya
Pada semua kasih sayangmu
Tak mau lagi aku tersentuh
Pada semua pengakuanmu
#
Kamu takkan mengerti rasa sakit ini
Kebohongan dari mulut manismu

Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui
Tak mau lagi aku terjerat
Pada semua janji-janjimu
Tak mau lagi aku terkait
Pada semua permainanmu

Bertahun-tahun bersama
Kupercayaimu
Kubanggakan kamu
Berikan s’galanya
Aku tak mau lagi
Ku tak mau lagi huoo… Yeee…Hee…

Pergilah kau
Tak ingin kutahui
Pergilah kau
Ku tahui

Selasa, 28 Mei 2013

Another Memory


Pantai Bama (Baluran)
Katanya kamera terbaik adalah mata manusia. Kameranya masih bukan apa-apa. Memori terbesar adalah otaknya. Aku tidak mengerti maksudnya. Terkadang memang sulit memahami apa yang dia katakan. Lebih mudah bagiku memahami hasil karyanya. Foto-foto dari kamera yang dianggapnya sebagai caranya menyimpan kenangan. dari tiap tempat yang akhir-akhir ini kita datangi.

Selesainya kami jalan-jalan satu hal yang selalu dia lakukan. Membersihkan kamera kesayangannya. Hati-hati. Ditiup-tiupnya. Dibuka. Ditutup. Anggapnya seperti dewa kamera itu. Lihat saja matanya. Merah dan mendamba kasur dihadapnya. Tapi masih saja dia mengambil tissue. Lalang saja aku melihatnya. Lalu aku hanya pintas dan langsung membuka laptopku.

Sesekali aku meliriknya. Sedang menghamba dia bersama kamera itu. Katanya dulu, “ini salah satu otakku” Otak apa? Tanyaku. Otak bagi orang lain. jawabnya. Dan aku hanya diam. Tak tau apa maksudnya. Ah,,dia selalu sulit menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya. Ku lirik lagi dia, sudah berganti memindahkan fotonya, sesekali memandangku. Matanya berkata. “APA??”. Kalau sudah begitu, kembali lagi aku pada laptopku. Aku melanjutkan paragrafku tentang perjalanan kami hari ini. mencoba mengingat-ingat hamparan pohon dan bau udara yang begitu khas menusuk hidungku. Menulisnya dan menulis. Hingga kami akhirnya semakin larut akan kegiatan kami masing-masing.
 ***
Siang ini setelah sampai kota kelahiran rasanya selalu sama. Langsung ngantuk. Pengennya nyentuh kasur. Tidur. Tapi lupa saja kalau kamera masih kotor. Apalagi nyonya di seberang sana juga sama saja. Langsung berkutat dengan laptop kesayangannya. Tangannya bergerak berirama. Seperti kaki laba-laba. Hahah,,,lima-lima. Semua bergerak. Dasar. Tidak akan kalah aku.

Masih saja debu-debu ini lekat menempel. Ini juga batu kecil masuk ke sela-sela tutup kamera. Sudah dibuka tutup tetap saja tak mau keluar. Argh. Sudahlah kutiup juga. Masih saja tak bisa keluar. Ayolah. Sesekali kulirik dia. Matanya melirik keatas. Seakan mengingat sesuatu. hahah.lucu sekali wajahnya. Membuatku semakin menyukainya.

Kali ini aku mendapat 204 gambar. Belum begitu puas, masih ada beberapa spot yang belum kudapat. Kemarin memang harus mengejar subuh dan menunggu keajaiban. Keajaiban warna daun yang berubah biru. Tapi sayang ternyata harus lebih pagi lagi. Dan kami harus pulang siangnya. Nyonya itu tak mau bermalam sekali lagi. Apalah yang kubisa tolak darinya. Fotonya juga sudah banyak dikameraku. Hehe.

Foto-foto ini adalah otakku dan otak untuk orang lain. tiap kali aku menjelaskan padanya. Dia selalu bingung. “Kau ini. Susah.” Hahaha..memang susah benar aku ini merangkai kata. Beda dengannya yang dengan mudah menulis. Apalagi bicara. Ah suaranya. Selalu bikin kangen. Lihatlah dia sekarang. Melirik-lirikku dari seberang. “APA??” jawabku lewat mata. Aku tau dia selalu ingin kuperhatikan. Pandangnnya langsung pindah di laptop putih pacarnya itu. Tangannya? Lihatlah berubah jadi kaki laba-laba lagi. Lima-lima. Semua. Sudahlah. Akhirnya kami larut dalam dunia kami masing-masing.
 ***
Akhirnya kami menikah. Setelah dia dengan romantisnya memberiku sebuah album foto. Foto ketika kami jalan-jalan, foto ketika aku bahkan tak tau dia membawa kamera. Dan selalu begitu. Fotonya berbicara. Tak harus ku tunggu dia bicara. Aku sudah bisa melihatnya berkata dalam foto yang dia berikan padaku.

Kubuka lembaran pertama. Dia perlihatkan dirinya berdiri mematung di sebuah museum. Kalian tau. Itu museum dimana kami pernah bertengkar hebat. Ya..kala itu dia mencoba bercanda. Mencoba menghapus tulisanku. Dan akhirnya benar-benar hilang. Semua.

Lembaran berikutnya adalah foto-foto kalimat permintaan maaf. Kalian tau, dia mengemasnya pada hal-hal yang ingin aku dapatkan. Pulpen tinta coklat. Tiket konser Afgan. Dan cincin bergaris merah. Dan semua barang-barang itu kudapatkan secara bertahap. Pulpennya setelah kami bertengkar. Tiket Afgan saat aku sembuh dari penyakit akibat nyamuk di daerah timur Indonesia. Yang membuatku tak bisa bergerak selama 2 minggu. Dan cincin bergaris merah. Kudapatkan setelah lembaran terakhir album foto ini hampir kututup.

Lembaran berikutnya memperlihatkan tempat-tempat yang pernah kami kunjungi. Aku tenggelam. Ingatanku bermain-main membelah Indonesia dan negara-negara tetangga tanpa terkecuali. Rumah, kamar, ruang tamu dan pohon kelapa belakang rumah. Aku seolah-olah diajak berkelana kembali bersama foto-fotonya.

Dan dilembaran terakhir kulihat dia kembali mematung. Bukan lagi karena pertengkaran di museum. Tapi dia mematung membawa kotak dan cincin bergaris merah. Tersenyum dan bicara. Lewat fotonya dia bicara. “Will you marry me?”. Dan seketika aku menangis. Semua ingatanku kembali.
 ***
Sekarang aku bisa mengajaknya tersenyum. Setelah 2 bulan kemarin bahkan mengingat namakupun dia tidak bisa. Dan kita sekarang bisa tersenyum bersama. Di hari sakral pernikahan kami nanti, 2 minggu lagi.

Tak ku sangka. Tulisan yang selama ini dia buat adalah tentang kami. Bagaimana dia selalu mencari perhatianku. Memperhatikanku. Aku sudah tahu Alya. Tapi betapa bahagianya aku tahu bahwa novel pertama yang siap kau terbitkan sesaat sebelum kau lupa ingatan adalah tentang sebuah rasa. Rasa yang tak bisa kutangkap dengan kamera macam apapun. Aku berterimakasih dan sangat senang. Ketika setiap bab dalam novelmu menceritakan rasa itu. Rasa ketika degup jantungmu semakin meningkat iramanya. Rasa ketika mata kita bertemu sesekali. Rasa ketika bahkan kau tak mau melihat dan menemuiku berhari-hari. Terimakasih Alya. Kita ternyata mempunyai rasa yang sama. Sekali lagi. Rasa yang tak dapat kutangkap dengan kameraku. Dan ternyata tertuang dalam tulisan-tulisanmu.
 ***
Sekarang aku tahu. Arti kata-katamu dulu. Saat aku sering bertanya. Dan kau jawab “Kamera adalah otakku bagi orang lain.” Ya,,ternyata dia memberiku jutaan ingatan yang sempat hilang. Tentang semua. Dan tentangmu

Alya & Bara
27 Mei 2013

Rabu, 06 Februari 2013

mimpi dan waktu

ketika mimpi berpacu dengan waktu
aku tak mau lagi mengingatmu
itu hanya akan membuatku berhenti
untuk sekedar berpikir hal yang tek tentu tentang khayalku

ketika mimpi berpacu dengan waktu
tak ada lagi kata megeluh
ucapan pembangkit jiwa harus beralun
menggemakan hati yang kadang haus akan api

ketika mimpi berpacu dengan waktu
akan ada puluhan hari kulalui dengan angka satu
dua tiga bahkan semua angka dalam detakan jam dinding yang terus berlalu
akan ada mata yang terus menatap dalam dinginnya hari tanpa suara

dinding dingin menemani
sunyi pagi menghampiri
terik siang menyengat bagai pemicu api dalam diri
dan pasti secangkir kopi akan setia merasuki tubuh yang gila akan tenaga yang harus terus ada

ketika mimpi berpacu dengan waktu
kau harus bangun, bukan hanya tidur
bergerak untuk maju dalam landasan pacumu
melangkah setapak demi setapak
untuk menggapai mimpimu
kadang berlari harus dijalani
karena
mimpi sudah berpacu dengan waktu

Kamis, 03 Januari 2013

Twenty Six Destination to Go in 2013. Be Ready!!!

Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.
 
(QS. Ar Rahman 32-33)
Merencanakan sebuah perjalanan merupakan kesenangan dan hobi tersendiri bagi saya. Maka untuk memulai awal tahun baru ini dengan semangat saya tuliskan beberapa tempat yang akan saya kunjungi tahun 2013. Let's start!
1. Bromo
2. Karimun Jawa
3. Pekanbaru
4. Lombok
5. Bogor
6. Ujung kulon
7. Gunung Lawu
8. Banjarnegara (arung jeram serayu)
9. Purbalingga (owabong)
10. Goa pindul
11. TMII
12. Gembira Loka
13. Monjali (taman pelangi)
14. PAntai Pok Tunggal
15. Taman Nasional Baluran
16. Museum merapi
17. Kraton Jogja (nontong wayang)
18. Madiun
19. Pantai di Pacitan
20. Taman siswa
21. Stadion bola (nonton bola)
22. LAwang sewu (bawah tanah)
23. Kota gede
24. Ulen sentalu
25. Kepulauan Seribu
26. Thailand.
semoga bisa terwujud semuanya. dan apabila ada yang membaca yang mau mewujudkannya, menemani saya atau sekedar mamberikan info serta cara kesana juga boleh. saya sangat senang dan menerima dengan baik.

teman