Aku ingin menuliskanmu. dalam sepenggal cerita masa lalu. manis.
indah untuk dikenang. Agar dunia tahu tentangmu dan kisah kita di tengah
tahun ini.
Hari ini hujan. Dalam rinainya aku seakan melihat sosokmu. samar-samar. Namun membuatku senang.
Apa
kabar kau disana. Masihkah kau simpan warna itu. Tujuh warna yang
menggodaku di tengah tahun ini. Seperti warna kehidupan. Kadang indah
kadang suram.
Awalnya kau datang bagai mendung. Membuatku belum.
Belum percaya siapa kau sebenarnya. Mendung yang penuh tanya. Sebenarnya
apa yang kau bawa. Menerka-nerka seperti apa kau ini. Yang akan ku
ketahui sebentar lagi.
Kemudian datanglah rintik itu. Perlahan
tapi pasti membasahi diri. Mulai meresapi siapa kau ini. Tibalah saat
itu. Saat dimana kita harus berada dalam satu atap. Yang aku tahu dan
kau pun tahu. Akan ada penyesuaian disana.
Hujan itu datang
dengan berbagai bentuk. Kadang deras dan kadang hanya rintik. Di bawah
payung ini kita berteduh. Dan memahami siapa kita sebenarnya. Payung itu
adalah tempat kita berpijak dulu. Sebuah tempat dimana air tercurah
dengan sempurna. Bahkan ada telaga yang memberi ketenangan dalam
diamnya. Di mana keramah tamahan selalu menyapa. Di mana kedinginan
selalu menggoda. Kau tahu, dingin itu akan sirna ketika tawa itu ada.
Ditempat
ini. Tempat kita mengabdi. Selama beberapa hari. Membuatku menemukan
arti dari tujuh warna yang kau bawa. Aku mulai mengerti apa yang selama
ini kutanyakan pada alam. Ketika kebosanan menyerang diminggu awal kita
bersama. Kau mau tahu apa yang kurasakan?
Minggu pertama, kau
hadir dengan rintik itu. Membuatku bosan dan ingin pulang. Malas aku
menanggapimu yang hanya penuh basa-basi. Kadang hujan, kadang terang.
Minggu
kedua, aku mulai paham apa yang harus kulakukan. Namun aku masih saja
tidak tahu, kemana kita akan menuju. Muara untuk kita berlabuh. Namun
aku mulai mengikuti arusmu.
Minggu ketiga, aku terus mengikutimu.
Berlayar dari sungai satu ke sungai yang lain. mencari-cari cara yang
tepat untuk menuju muara itu.
Minggu keempat. Kau sudah menjadi
hujan. Terus membasahi hati dan pikiranku yang mulai hanyut akan
kesenganan bersama rintiknya. Bahkan tak hanya hatiku yang basah.
Membayangkan semua ini segera berakhirpun membuat mataku juga ingin
mengeluarkan butiran-butiran hujan.
Minggu kelima. aku sudah
menyerah. Kau sungguh indah. Kau bawa matahari yang selama ini kau
simpan. Walau kadang masih bisa kulihat dalam hangatnya tawa. Kau
padukan keduanya. Hujan dan matahari. Dan inilah yang kutunggu. Pelangi.
Aku bisa merasakan hebatnya pelangi yang kau bawa. Begitu indah ketika
perpaduan hujan dan matahari bertemu dalam udara yang pernah kita hirup
bersama. Lama aku memandangnya. Tentu saja bersamamu. Kalian lebih
tepatnya.
Namun tiba-tiba semua hilang. Warna-warna itu mulai
pudar. Satu persatu. Dan datanglah matahari itu. Yang akan kita bawa
masing-masing. Matahari kita sendiri. Yang selalu menepati janjinya
untuk terus bersinar. Setiap hari. Lalu dimana hilangnya pelangi itu.
Ternyata mereka ada disini. Tak jauh. Mereka ada dihati. Untuk dikenang.
Mereka bukan matahari. bukan pula hujan.
Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu.
Walau tentu masih banyak warna lain yang membentuk kenangan di tengah tahun ini.
Seperti
melihat pelangi. Walau hanya sekejap. Namun keindahannya akan kita
simpan disini. Dihati. Bukan matahari yang selalu berjanji untuk
bersinar tiap hari. Terimakasih untuk tujuh warnamu yang indah itu.
Melengkungkan senyuman diluasnya langit. Terimakasih untuk keindahanmu.
Terimakasih sudah menjadi pelangi di bulan Juli-ku. Selamat menjadi
pelangi dibelahan bumi yang berbeda. Tapi aku yakin, suatu hari pasti
kita akan dipertemukan lagi oleh hujan dan matahari. #KKNUNIT96
 |
| KKN UNIT 96 |