dari kemarin mengalun terus lagu ini di kepala.
Pergilah Kau
(Sherina)
Tak mau lagi aku percaya
Pada semua kasih sayangmu
Tak mau lagi aku tersentuh
Pada semua pengakuanmu
#
Kamu takkan mengerti rasa sakit ini
Kebohongan dari mulut manismu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah semua rasa bersalahmu
Pergilah kau
Pergi dari hidupku
Bawalah rahasiamu yang tak ingin kutahui
Tak mau lagi aku terjerat
Pada semua janji-janjimu
Tak mau lagi aku terkait
Pada semua permainanmu
Bertahun-tahun bersama
Kupercayaimu
Kubanggakan kamu
Berikan s’galanya
Aku tak mau lagi
Ku tak mau lagi huoo… Yeee…Hee…
Pergilah kau
Tak ingin kutahui
Pergilah kau
Ku tahui
Rabu, 29 Mei 2013
Selasa, 28 Mei 2013
Another Memory
![]() |
| Pantai Bama (Baluran) |
Katanya
kamera terbaik adalah mata manusia. Kameranya masih bukan apa-apa. Memori
terbesar adalah otaknya. Aku tidak mengerti maksudnya. Terkadang memang sulit
memahami apa yang dia katakan. Lebih mudah bagiku memahami hasil karyanya.
Foto-foto dari kamera yang dianggapnya sebagai caranya menyimpan kenangan. dari
tiap tempat yang akhir-akhir ini kita datangi.
Selesainya
kami jalan-jalan satu hal yang selalu dia lakukan. Membersihkan kamera kesayangannya.
Hati-hati. Ditiup-tiupnya. Dibuka. Ditutup. Anggapnya seperti dewa kamera itu. Lihat
saja matanya. Merah dan mendamba kasur dihadapnya. Tapi masih saja dia
mengambil tissue. Lalang saja aku melihatnya. Lalu aku hanya pintas dan
langsung membuka laptopku.
Sesekali
aku meliriknya. Sedang menghamba dia bersama kamera itu. Katanya dulu, “ini
salah satu otakku” Otak apa? Tanyaku. Otak bagi orang lain. jawabnya. Dan aku
hanya diam. Tak tau apa maksudnya. Ah,,dia selalu sulit menjelaskan apa yang ada
dalam pikirannya. Ku lirik lagi dia, sudah berganti memindahkan fotonya,
sesekali memandangku. Matanya berkata. “APA??”. Kalau sudah begitu, kembali
lagi aku pada laptopku. Aku melanjutkan paragrafku tentang perjalanan kami hari
ini. mencoba mengingat-ingat hamparan pohon dan bau udara yang begitu khas
menusuk hidungku. Menulisnya dan menulis. Hingga kami akhirnya semakin larut
akan kegiatan kami masing-masing.
***
Siang
ini setelah sampai kota kelahiran rasanya selalu sama. Langsung ngantuk. Pengennya
nyentuh kasur. Tidur. Tapi lupa saja kalau kamera masih kotor. Apalagi nyonya
di seberang sana juga sama saja. Langsung berkutat dengan laptop kesayangannya.
Tangannya bergerak berirama. Seperti kaki laba-laba. Hahah,,,lima-lima. Semua bergerak.
Dasar. Tidak akan kalah aku.
Masih
saja debu-debu ini lekat menempel. Ini juga batu kecil masuk ke sela-sela tutup
kamera. Sudah dibuka tutup tetap saja tak mau keluar. Argh. Sudahlah kutiup
juga. Masih saja tak bisa keluar. Ayolah. Sesekali kulirik dia. Matanya melirik
keatas. Seakan mengingat sesuatu. hahah.lucu sekali wajahnya. Membuatku semakin
menyukainya.
Kali
ini aku mendapat 204 gambar. Belum begitu puas, masih ada beberapa spot yang
belum kudapat. Kemarin memang harus mengejar subuh dan menunggu keajaiban. Keajaiban
warna daun yang berubah biru. Tapi sayang ternyata harus lebih pagi lagi. Dan kami
harus pulang siangnya. Nyonya itu tak mau bermalam sekali lagi. Apalah yang
kubisa tolak darinya. Fotonya juga sudah banyak dikameraku. Hehe.
Foto-foto
ini adalah otakku dan otak untuk orang lain. tiap kali aku menjelaskan padanya.
Dia selalu bingung. “Kau ini. Susah.” Hahaha..memang susah benar aku ini
merangkai kata. Beda dengannya yang dengan mudah menulis. Apalagi bicara. Ah suaranya.
Selalu bikin kangen. Lihatlah dia sekarang. Melirik-lirikku dari seberang. “APA??”
jawabku lewat mata. Aku tau dia selalu ingin kuperhatikan. Pandangnnya langsung
pindah di laptop putih pacarnya itu. Tangannya? Lihatlah berubah jadi kaki laba-laba
lagi. Lima-lima. Semua. Sudahlah. Akhirnya kami larut dalam dunia kami
masing-masing.
***
Akhirnya
kami menikah. Setelah dia dengan romantisnya memberiku sebuah album foto. Foto ketika
kami jalan-jalan, foto ketika aku bahkan tak tau dia membawa kamera. Dan selalu
begitu. Fotonya berbicara. Tak harus ku tunggu dia bicara. Aku sudah bisa
melihatnya berkata dalam foto yang dia berikan padaku.
Kubuka
lembaran pertama. Dia perlihatkan dirinya berdiri mematung di sebuah museum. Kalian
tau. Itu museum dimana kami pernah bertengkar hebat. Ya..kala itu dia mencoba
bercanda. Mencoba menghapus tulisanku. Dan akhirnya benar-benar hilang. Semua.
Lembaran
berikutnya adalah foto-foto kalimat permintaan maaf. Kalian tau, dia mengemasnya
pada hal-hal yang ingin aku dapatkan. Pulpen tinta coklat. Tiket konser Afgan. Dan
cincin bergaris merah. Dan semua barang-barang itu kudapatkan secara bertahap.
Pulpennya setelah kami bertengkar. Tiket Afgan saat aku sembuh dari penyakit
akibat nyamuk di daerah timur Indonesia. Yang membuatku tak bisa bergerak selama
2 minggu. Dan cincin bergaris merah. Kudapatkan setelah lembaran terakhir album
foto ini hampir kututup.
Lembaran
berikutnya memperlihatkan tempat-tempat yang pernah kami kunjungi. Aku
tenggelam. Ingatanku bermain-main membelah Indonesia dan negara-negara tetangga
tanpa terkecuali. Rumah, kamar, ruang tamu dan pohon kelapa belakang rumah. Aku
seolah-olah diajak berkelana kembali bersama foto-fotonya.
Dan dilembaran
terakhir kulihat dia kembali mematung. Bukan lagi karena pertengkaran di
museum. Tapi dia mematung membawa kotak dan cincin bergaris merah. Tersenyum dan
bicara. Lewat fotonya dia bicara. “Will you marry me?”. Dan seketika aku
menangis. Semua ingatanku kembali.
***
Sekarang
aku bisa mengajaknya tersenyum. Setelah 2 bulan kemarin bahkan mengingat
namakupun dia tidak bisa. Dan kita sekarang bisa tersenyum bersama. Di hari sakral
pernikahan kami nanti, 2 minggu lagi.
Tak
ku sangka. Tulisan yang selama ini dia buat adalah tentang kami. Bagaimana dia
selalu mencari perhatianku. Memperhatikanku. Aku sudah tahu Alya. Tapi betapa
bahagianya aku tahu bahwa novel pertama yang siap kau terbitkan sesaat sebelum
kau lupa ingatan adalah tentang sebuah rasa. Rasa yang tak bisa kutangkap
dengan kamera macam apapun. Aku berterimakasih dan sangat senang. Ketika setiap
bab dalam novelmu menceritakan rasa itu. Rasa ketika degup jantungmu semakin
meningkat iramanya. Rasa ketika mata kita bertemu sesekali. Rasa ketika bahkan
kau tak mau melihat dan menemuiku berhari-hari. Terimakasih Alya. Kita ternyata
mempunyai rasa yang sama. Sekali lagi. Rasa yang tak dapat kutangkap dengan
kameraku. Dan ternyata tertuang dalam tulisan-tulisanmu.
***
Sekarang
aku tahu. Arti kata-katamu dulu. Saat aku sering bertanya. Dan kau jawab “Kamera
adalah otakku bagi orang lain.” Ya,,ternyata dia memberiku jutaan ingatan yang
sempat hilang. Tentang semua. Dan tentangmu
Alya
& Bara
27
Mei 2013
Rabu, 06 Februari 2013
mimpi dan waktu
ketika mimpi berpacu dengan waktu
aku tak mau lagi mengingatmu
itu hanya akan membuatku berhenti
untuk sekedar berpikir hal yang tek tentu tentang khayalku
ketika mimpi berpacu dengan waktu
tak ada lagi kata megeluh
ucapan pembangkit jiwa harus beralun
menggemakan hati yang kadang haus akan api
ketika mimpi berpacu dengan waktu
akan ada puluhan hari kulalui dengan angka satu
dua tiga bahkan semua angka dalam detakan jam dinding yang terus berlalu
akan ada mata yang terus menatap dalam dinginnya hari tanpa suara
dinding dingin menemani
sunyi pagi menghampiri
terik siang menyengat bagai pemicu api dalam diri
dan pasti secangkir kopi akan setia merasuki tubuh yang gila akan tenaga yang harus terus ada
ketika mimpi berpacu dengan waktu
kau harus bangun, bukan hanya tidur
bergerak untuk maju dalam landasan pacumu
melangkah setapak demi setapak
untuk menggapai mimpimu
kadang berlari harus dijalani
karena
mimpi sudah berpacu dengan waktu
aku tak mau lagi mengingatmu
itu hanya akan membuatku berhenti
untuk sekedar berpikir hal yang tek tentu tentang khayalku
ketika mimpi berpacu dengan waktu
tak ada lagi kata megeluh
ucapan pembangkit jiwa harus beralun
menggemakan hati yang kadang haus akan api
ketika mimpi berpacu dengan waktu
akan ada puluhan hari kulalui dengan angka satu
dua tiga bahkan semua angka dalam detakan jam dinding yang terus berlalu
akan ada mata yang terus menatap dalam dinginnya hari tanpa suara
dinding dingin menemani
sunyi pagi menghampiri
terik siang menyengat bagai pemicu api dalam diri
dan pasti secangkir kopi akan setia merasuki tubuh yang gila akan tenaga yang harus terus ada
ketika mimpi berpacu dengan waktu
kau harus bangun, bukan hanya tidur
bergerak untuk maju dalam landasan pacumu
melangkah setapak demi setapak
untuk menggapai mimpimu
kadang berlari harus dijalani
karena
mimpi sudah berpacu dengan waktu
Kamis, 03 Januari 2013
Twenty Six Destination to Go in 2013. Be Ready!!!
Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Merencanakan sebuah perjalanan merupakan kesenangan dan hobi tersendiri bagi saya. Maka untuk memulai awal tahun baru ini dengan semangat saya tuliskan beberapa tempat yang akan saya kunjungi tahun 2013. Let's start!
Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. (QS. Ar Rahman 32-33)
1. Bromo
2. Karimun Jawa
3. Pekanbaru
4. Lombok
5. Bogor
6. Ujung kulon
7. Gunung Lawu
8. Banjarnegara (arung jeram serayu)
9. Purbalingga (owabong)
10. Goa pindul
11. TMII
12. Gembira Loka
13. Monjali (taman pelangi)
14. PAntai Pok Tunggal
15. Taman Nasional Baluran
16. Museum merapi
17. Kraton Jogja (nontong wayang)
18. Madiun
19. Pantai di Pacitan
20. Taman siswa
21. Stadion bola (nonton bola)
22. LAwang sewu (bawah tanah)
23. Kota gede
24. Ulen sentalu
25. Kepulauan Seribu
26. Thailand.
semoga bisa terwujud semuanya. dan apabila ada yang membaca yang mau mewujudkannya, menemani saya atau sekedar mamberikan info serta cara kesana juga boleh. saya sangat senang dan menerima dengan baik.
Selasa, 18 Desember 2012
Terlalu Takut (edisi puisi pesanan)
Ketika ketakutan tak kunjung menemui jalan, ketakutan itulah yang akan menjadi keberanian
Aku terlalu takut untuk mengatakannya..
Membuatmu tahu bahwa belakangan ini aku mulai terkesima
Menetapkan hati yang mulai menepi ke pelabuhannya
Aku terlalu takut untuk mengatakannya..
Bahkan untuk memberi sinyal bahwa aku ada
Mengharuskan mata untuk mencari pandangan lain ketika takut
bertemu
Aku terlalu takut untuk mengatakannya..
Bahkan aku takut untuk memikirkannya dalam otakku
Ketika kau ada seakan kau bisa membaca pikirannku
Aku terlalu takut untuk mengatakannya..
Memberi ruang untuk yang ada dan datang
Hanya untuk memastikan ini ruang ini akan kau tempati
Aku terlalu takut untuk mengatakannya..
Menunggu malam datang baru berani bilang
Namun ketika telah datang aku kembali menunggu pagi, begitu
seterusnya
Aku terlalu takut untuk mengatakannya..
Hanya lewat garis vertical dengan pemilikmu
Aku mulai bercerita, meminta, dan mengikhlaskan ketika kau
harus dijalur yang berbeda
Selasa, 23 Oktober 2012
Pelangi di Bulan Juli
Aku ingin menuliskanmu. dalam sepenggal cerita masa lalu. manis.
indah untuk dikenang. Agar dunia tahu tentangmu dan kisah kita di tengah
tahun ini.
Hari ini hujan. Dalam rinainya aku seakan melihat sosokmu. samar-samar. Namun membuatku senang.
Apa kabar kau disana. Masihkah kau simpan warna itu. Tujuh warna yang menggodaku di tengah tahun ini. Seperti warna kehidupan. Kadang indah kadang suram.
Awalnya kau datang bagai mendung. Membuatku belum. Belum percaya siapa kau sebenarnya. Mendung yang penuh tanya. Sebenarnya apa yang kau bawa. Menerka-nerka seperti apa kau ini. Yang akan ku ketahui sebentar lagi.
Kemudian datanglah rintik itu. Perlahan tapi pasti membasahi diri. Mulai meresapi siapa kau ini. Tibalah saat itu. Saat dimana kita harus berada dalam satu atap. Yang aku tahu dan kau pun tahu. Akan ada penyesuaian disana.
Hujan itu datang dengan berbagai bentuk. Kadang deras dan kadang hanya rintik. Di bawah payung ini kita berteduh. Dan memahami siapa kita sebenarnya. Payung itu adalah tempat kita berpijak dulu. Sebuah tempat dimana air tercurah dengan sempurna. Bahkan ada telaga yang memberi ketenangan dalam diamnya. Di mana keramah tamahan selalu menyapa. Di mana kedinginan selalu menggoda. Kau tahu, dingin itu akan sirna ketika tawa itu ada.
Ditempat ini. Tempat kita mengabdi. Selama beberapa hari. Membuatku menemukan arti dari tujuh warna yang kau bawa. Aku mulai mengerti apa yang selama ini kutanyakan pada alam. Ketika kebosanan menyerang diminggu awal kita bersama. Kau mau tahu apa yang kurasakan?
Minggu pertama, kau hadir dengan rintik itu. Membuatku bosan dan ingin pulang. Malas aku menanggapimu yang hanya penuh basa-basi. Kadang hujan, kadang terang.
Minggu kedua, aku mulai paham apa yang harus kulakukan. Namun aku masih saja tidak tahu, kemana kita akan menuju. Muara untuk kita berlabuh. Namun aku mulai mengikuti arusmu.
Minggu ketiga, aku terus mengikutimu. Berlayar dari sungai satu ke sungai yang lain. mencari-cari cara yang tepat untuk menuju muara itu.
Minggu keempat. Kau sudah menjadi hujan. Terus membasahi hati dan pikiranku yang mulai hanyut akan kesenganan bersama rintiknya. Bahkan tak hanya hatiku yang basah. Membayangkan semua ini segera berakhirpun membuat mataku juga ingin mengeluarkan butiran-butiran hujan.
Minggu kelima. aku sudah menyerah. Kau sungguh indah. Kau bawa matahari yang selama ini kau simpan. Walau kadang masih bisa kulihat dalam hangatnya tawa. Kau padukan keduanya. Hujan dan matahari. Dan inilah yang kutunggu. Pelangi.
Aku bisa merasakan hebatnya pelangi yang kau bawa. Begitu indah ketika perpaduan hujan dan matahari bertemu dalam udara yang pernah kita hirup bersama. Lama aku memandangnya. Tentu saja bersamamu. Kalian lebih tepatnya.
Namun tiba-tiba semua hilang. Warna-warna itu mulai pudar. Satu persatu. Dan datanglah matahari itu. Yang akan kita bawa masing-masing. Matahari kita sendiri. Yang selalu menepati janjinya untuk terus bersinar. Setiap hari. Lalu dimana hilangnya pelangi itu. Ternyata mereka ada disini. Tak jauh. Mereka ada dihati. Untuk dikenang. Mereka bukan matahari. bukan pula hujan.
Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu.
Walau tentu masih banyak warna lain yang membentuk kenangan di tengah tahun ini.
Seperti melihat pelangi. Walau hanya sekejap. Namun keindahannya akan kita simpan disini. Dihati. Bukan matahari yang selalu berjanji untuk bersinar tiap hari. Terimakasih untuk tujuh warnamu yang indah itu. Melengkungkan senyuman diluasnya langit. Terimakasih untuk keindahanmu. Terimakasih sudah menjadi pelangi di bulan Juli-ku. Selamat menjadi pelangi dibelahan bumi yang berbeda. Tapi aku yakin, suatu hari pasti kita akan dipertemukan lagi oleh hujan dan matahari. #KKNUNIT96
Hari ini hujan. Dalam rinainya aku seakan melihat sosokmu. samar-samar. Namun membuatku senang.
Apa kabar kau disana. Masihkah kau simpan warna itu. Tujuh warna yang menggodaku di tengah tahun ini. Seperti warna kehidupan. Kadang indah kadang suram.
Awalnya kau datang bagai mendung. Membuatku belum. Belum percaya siapa kau sebenarnya. Mendung yang penuh tanya. Sebenarnya apa yang kau bawa. Menerka-nerka seperti apa kau ini. Yang akan ku ketahui sebentar lagi.
Kemudian datanglah rintik itu. Perlahan tapi pasti membasahi diri. Mulai meresapi siapa kau ini. Tibalah saat itu. Saat dimana kita harus berada dalam satu atap. Yang aku tahu dan kau pun tahu. Akan ada penyesuaian disana.
Hujan itu datang dengan berbagai bentuk. Kadang deras dan kadang hanya rintik. Di bawah payung ini kita berteduh. Dan memahami siapa kita sebenarnya. Payung itu adalah tempat kita berpijak dulu. Sebuah tempat dimana air tercurah dengan sempurna. Bahkan ada telaga yang memberi ketenangan dalam diamnya. Di mana keramah tamahan selalu menyapa. Di mana kedinginan selalu menggoda. Kau tahu, dingin itu akan sirna ketika tawa itu ada.
Ditempat ini. Tempat kita mengabdi. Selama beberapa hari. Membuatku menemukan arti dari tujuh warna yang kau bawa. Aku mulai mengerti apa yang selama ini kutanyakan pada alam. Ketika kebosanan menyerang diminggu awal kita bersama. Kau mau tahu apa yang kurasakan?
Minggu pertama, kau hadir dengan rintik itu. Membuatku bosan dan ingin pulang. Malas aku menanggapimu yang hanya penuh basa-basi. Kadang hujan, kadang terang.
Minggu kedua, aku mulai paham apa yang harus kulakukan. Namun aku masih saja tidak tahu, kemana kita akan menuju. Muara untuk kita berlabuh. Namun aku mulai mengikuti arusmu.
Minggu ketiga, aku terus mengikutimu. Berlayar dari sungai satu ke sungai yang lain. mencari-cari cara yang tepat untuk menuju muara itu.
Minggu keempat. Kau sudah menjadi hujan. Terus membasahi hati dan pikiranku yang mulai hanyut akan kesenganan bersama rintiknya. Bahkan tak hanya hatiku yang basah. Membayangkan semua ini segera berakhirpun membuat mataku juga ingin mengeluarkan butiran-butiran hujan.
Minggu kelima. aku sudah menyerah. Kau sungguh indah. Kau bawa matahari yang selama ini kau simpan. Walau kadang masih bisa kulihat dalam hangatnya tawa. Kau padukan keduanya. Hujan dan matahari. Dan inilah yang kutunggu. Pelangi.
Aku bisa merasakan hebatnya pelangi yang kau bawa. Begitu indah ketika perpaduan hujan dan matahari bertemu dalam udara yang pernah kita hirup bersama. Lama aku memandangnya. Tentu saja bersamamu. Kalian lebih tepatnya.
Namun tiba-tiba semua hilang. Warna-warna itu mulai pudar. Satu persatu. Dan datanglah matahari itu. Yang akan kita bawa masing-masing. Matahari kita sendiri. Yang selalu menepati janjinya untuk terus bersinar. Setiap hari. Lalu dimana hilangnya pelangi itu. Ternyata mereka ada disini. Tak jauh. Mereka ada dihati. Untuk dikenang. Mereka bukan matahari. bukan pula hujan.
Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu.
Walau tentu masih banyak warna lain yang membentuk kenangan di tengah tahun ini.
Seperti melihat pelangi. Walau hanya sekejap. Namun keindahannya akan kita simpan disini. Dihati. Bukan matahari yang selalu berjanji untuk bersinar tiap hari. Terimakasih untuk tujuh warnamu yang indah itu. Melengkungkan senyuman diluasnya langit. Terimakasih untuk keindahanmu. Terimakasih sudah menjadi pelangi di bulan Juli-ku. Selamat menjadi pelangi dibelahan bumi yang berbeda. Tapi aku yakin, suatu hari pasti kita akan dipertemukan lagi oleh hujan dan matahari. #KKNUNIT96
![]() |
| KKN UNIT 96 |
Kamis, 26 Juli 2012
Teman Baru
Sore itu udara tetap
dingin. Sama seperti biasanya. Aku bersama temanku beranjak ke tempat yang
lebih tinggi. Membawa rasa penasaran dan hati yang penuh dengan tanda tanya.
Berjalan santai sambil bercengkrama. Menikmati segarnya udara pegunungan dan
tetap melihat ke bawah. Kalau-kalau ada ee ayam yang betebaran menghiasi jalan.
Sampailah kami pada satu
tempat. SD Tlogo 1 (Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo). Mata-mata dari
puluhan anak SD terus mengawasi ketika kami menaiki anak tangga menuju ruangan
kelas. Senyum pun terus terpancar dan terus melebar. Rencananya hari ini memang
kami ingin belajar bersama dengan anak-anak itu. Anak kelas 6.
Kelas
sudah dibagi. Sebagian pindah ke kelas lima dan yang lain tetap dikelas. Aku
memilih tetap tinggal dan membagi kelas itu kedalam kelompok-kelompok kecil.
Dan mereka memilih untuk mengikuti perintah kami. Setelah itu aku memilih
kelompok yang berada di paling kiri. Tak tahu mengapa. Mereka berlima dengan
aku jadi berenam. Melingkar merubah posisi tempat duduk dan berdempetan.
Suroto.
Ihsan. Narti. Ima. Umi.
Itulah
nama mereka. Nama teman baru yang akan berbagi ilmu 2 jam hari Rabu. Teman baru
yang penuh dengan rasa ingin tahu dan celoteh polos. Teman baru yang tertawa
jika teman mereka melontarkan kata-kata lucu. Teman baru yang menyoraki
temannya jika dia lama mengerjakan soal dariku.
Suroto.
Nama
yang sedikit tua. Hehe. Namun dia adalah anak laki-laki yang selalu mengalah
terhadap Ihsan jika Ihsan ingin menyombongkan diri dan tampil didepan teman-temannya.
Suroto. Yang aku sering memanggilnya sunarto atau subroto. Hari itu berbaju
coklat dan selalu berkata “ooh” ketika ku jelaskan.
Ihsan.
Bocah
yang selalu berbicara dan ceria. Maunya selalu terdepan dan tampil di depan
teman-temannya. Walau kadang suka bicara tapi kemampuan mengerjakan soalnya
cepat dan mudah mengerti. Dibandingkan yang lain dia yang paling narsis jika
ada temanku yang sedang memotret kegiatan belajar kami.
Narti.
Seperti
nama tetangaku. Dia kemarin memakai jilbab dan berbaji kotak-kotak. Duduknyaa
dipojok dan selalu paling lama mengerjakan soal. Otomatis dia menjadi bahan
sorakan temannya yang keburu mau tahu jawaban yang benar. Anaknya sedikit
pemalu dengan mata yang sarat akan tanya.
Ima.
Gadis
kelas 6 ini sama cerewetnya dengan Ihsan. Banyak bertanya, banyak mendebat dan
banyak sekali yang dia bicarakan. Dia juga selalu memprotesku agar memberi
tanda yang lebih besar pada hasil pekerjaannya. Bekali-kali dan berulang kali.
Matanya juga selalu melihat hasil pekerjaan Umi. Apakah salahnya lebih sedikit
atau lebih banyak.
Umi.
Kurasa
dia yang paling pintar dimata teman-temannya. Pendiam. Tak banyak bicara, namun
pekerjaannya paling beres. Selalu merasa tak enak jika dia benar dan
teman-temannya salah. Takut-takut bicara dan selalu diejekin dengan Ihsan. Ihsan
ini memang banyak sensasi.
![]() |
| teman baru |
Dari
mereka berlima aku jadi banyak tahu. Kejujuran yang masih sangat dijunjung
tinggi. Buku yang selalu ditutupi ketika mengerjakan soal. Terbukti mereka yang
ingin mengerjakan sendiri tanpa harus mencontek. Rasa ingin tahu yang tinggi
dengan rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut-mulut yang sedang berpuasa
kala itu. Teman baru. Mungkin mereka lebih kecil dan usianya jauh dariku. Tapi
kejujuran dan semangat bara api yang besar membuatku ingin terus belajar. Tak
hanya saat itu. Tapi sekarang dan nanti.
Langganan:
Postingan (Atom)
keyword
00:33 Kamar kost-Yogyakarta
(1)
1 November 2009
(1)
awal masuk SMA
(1)
bekerja
(1)
berkaca
(1)
bikin paspor
(1)
catatan pertemanan
(2)
Cerpen
(1)
cinta
(1)
introspeksi
(1)
Istimewa Yogyakarta
(1)
jalan-jalan
(1)
kesadaranku
(2)
kost2 an ceria
(1)
liburan lebaran
(1)
lirik lagu
(1)
lupa
(1)
manuscript
(1)
Mei 2010
(1)
pengertian
(1)
pesanan puisi pipit
(2)
puisi
(1)
rektorat UGM
(1)
teman
(1)
UTS
(1)


