Sabtu, 24 Maret 2012

untuk orang yang saat ini kucintai


untuk orang yang saat ini kucintai. aku tidak tahu. ini cinta atau sekedar rasa kagum yang berlebihan. atau hanya rasa suka saat aku melihatmu. tapi yang jelas, ketika bertemu denganmu rasa deg-degan itu tiba. rasa bahagia itu muncul. menyenangkan. menegangkan dan menyesakkan.

ketika memutuskan untuk memperhatikanmu dengan lebih, hati ini sudah bersepakat dengan  mata dan otak. ya mereka sepakat untuk selalu melihatmu, memikirkanmu dan menyimpan seyummu dalam hatiku. tak peduli banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan. tapi bayanganmu tetap membuntuti hariku. bukan cuma sekali sehari. bisa jadi 10 kali sehari.

ketika bibirku tak mampu mengucap atau sekedar menyapa, hanya mataku yang mampu menggantikannya untuk bicara. aku bisa bertahan lama bicara lewat mata denganmu. walau itu harus berulang. 5 detik dan langsung silau..ya silau dengan tatapan balik matamu.

ketika tanganku tak mampu menggapai hatimu, hanya doa yang mampu kulakukan. berdoa agar Tuhan menyampaikan kita pada lembaran yang sama. lembaran cerita yang akhirnya menyatu. menyatukannya dalam satu cerita cinta.

awal aku memutuskan untuk memperhatikanmu lebih adalah ketika kau berada didepan sana. sedang berbicara. tiba-tiba aku melihat karya surga sedang berbicara. tak lagi mata yang terus memandang. tapi hati juga ikut bergetar. sejak itu banyak hal yang kudapat darimu. mendekatimu perlahan. mencoba terlihat didepanmu adalah kekuatan ekstra besar dari dalam ragaku.

semakin hari semakin banyak hal yang kutahu tentangmu. semakin aku mengerti bahwa tanganmu sangat sulit untuk kugapai. apalagi untuk kugenggam. ternyata kau terlalu tinggi.  tapi itulah konsekuensi untukku jika aku berani memperhatikammu lebih. mengenalmu lebih memang membuatku akan lebih tahu siapa aku ini. jadi tugasku disini adalah menjadi lebih baik untukmu. mempersiapkan diriku untuk bisa mendampingi dirimu nanti.

karena aku adalah wanita. aku hanya mampu memandangmu. menyapa kadang-kadang. yang itupun butuh enaegi dan kekuatan ekstra besar. bicara denganmu walau tak sering juga merupakan langkah-langkah mendekatimu. karena aku adalah wanita aku tak mampu berlaku lebih. membuatmu untuk lebih memperhatikakanku dengan cara-cara yang tak langsung. jadi kumohon jangan menunduk jika aku lewat. jangan cepat-cepat pergi jika aku sedang ingin ngobrol. itu adalah usahaku untuk menyatukan hati denganmu.

untuk orang yang saat ini kucintai. berdoalah lebih keras agar kau dipertemukan dengan orang yang tepat dengammu nanti. disatukan dalam satu lembaran cerita dalam takdir-Nya. dimudahkan dalam jalan untuk menemukannya. orang yang memang banar-benar mencintaimu. orang yang lebih dulu mencintaimu.bahkan sebelum kau berani untuk memutuskan untuk mencintainya.semoga saja orang yang tepat dan kau cari itu adalah aku. hehehehe.

Selasa, 20 Maret 2012

lukisan langit

langit.
luas tinggi dan agung.
dia bijak. teman yang baik.
ada ketika matahari akan memenuhi janjinya.
terbit untuk makhluk.
ada ketika ia tenggelam. dengan janji lain di tempat lain.
menemani awan berlari-larian. memberi tempat istirahat ketika mereka lelah.
ada ketika bintang berpendar. memainkan melodi dengan kerlipnya.
ada ketika mendung bersandar. saat hatinya sakit dan teteskan hujan.
saat hatinya tergantikan senyuman pelangi. yang terbentuk karena hangatnya matahari dan .luka hujan yang mulai hilang..
ia selalu ada untuk bulan. saat ia mengintip malu atau menampakan kebesarannya.
dia juga ada. ketika petir berteriak. marah.

untukku dia selalu ada. selalu menjaga. untuk berkaca. bahwa aku adalah satu. adalah kerdil.
dia tempatku berkaca. pada hidup yang terkadang menyebalkan.
namun dia menyadarkanku. dengan dirinya yang luas.
dia tempatku merenung. mengaguminya.

karna langit. akan selalu sama. sabar. luas. tinggi. dan agung











:: untuk teman yang sudah menjadi langitku. semoga aku juga bisa jadi langitmu.

Sabtu, 04 Februari 2012

Ingatan Tentang Kalian

ingatan tentang kalian
dalam ranah yang mereka sebut keabadian
aku bersemayam bersama iingatan tentang kalian
kudekap dan kukecap namamu satu demi satu
sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu
walau tiada aksara di sana
walau tiada wujud yang serupa
tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua
seperti engkau menemukanku
empat,lima, dan enam
berapapun banyaknya kita tersempal
perlahan lebur menjadi tunggal
dua, satu, kosong
bersama kita lenyap menjadi tiada
dalam ranah yang mereka sebut kehidupan,
aku dan kalian menangis dan merengang di antara ruang
aku dan kalian tersesat dalam belantara nama dan rupa
masihkah kau mengenali aku?
masihkah aku mengenalimu?
jiwa kita tertawa dan berkata:
berjuta kelahiran dan kematian telah kita dayakan
berjuta kata dan sabda telah kita ucapkan
berjuta wadah dan kaidah telah kita mainkan
hanya untuk tahu tiada kasih selain cinta
dan tiada jalinan selain persahabatan
meski tak terkira banyaknya nama dicipta
meski tak terhingga rasa menjadi pembeda
aku akan menemukanmu semua, sebagaimana engkau semua menemukanku
sahabat, jika kita terpecah raga
satu, jika kita memadu raga
tiada, jika hanya jiwa
inilah kenangan yang kucuri simpan
saat kubersemayamkan dalam ranah yang mereka sebut keabadian
inilah kenangan yang kusisipkan di sela-sela mentari dan bulan
yang kelakmereka bisikkan saat kucari kalian
dalam belantara yang dinamai kehidupan
ingatan yang pertama dan terakhir
yang mengikuti saat aku terlahir
yang bersembunyi hingga kalian semua hadir
yang menemani saat udara usai mengalir
cinta dan sahabat
sahabat dan cinta
itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana
sisanya fana

dee, madre,,ingatan tentang kalian,,,hal 78-80

Jumat, 03 Februari 2012

pujian tulus seorang lelaki

liburan ini membuat saya lebih mengagumi kehidupan,,,
saat saya berjalan2 banyak cerita yang mendatangkan kekaguman pada lelaki2 yang saya temui
dari dulu saya sudah kagum, tapi belum menyadarinya
yang saya kagumi adalah ketika seorang lelaki sedang memuji orang yang dekat dengannya..
saat orang itu tidak d depannya,,,
rasanya benar2 tulus tanpa ada kebohongan ataupun kepura2an

ketika seorang lelaki memuji wanitanya
ketika seorang lelaki memuji anaknya
ketika seorang lelaki memuji ayahnya
ketika seorang lelaki memuji sahabatnya

dan selama ini saya telah menjadi saksi beberapa pujian itu
tulus dan indah...

awalnya saat saya berlibur ke timur pulau jawa
ketika akan pulang kami diantar oleh seorang ayah...
dalam perjalanan saya berbincang2 dengan sosok ayah tersebut
saat itu kebetulan anaknya tidak ikut mengantar kami pulang
"Wah Pak anak bapak kalau main tenis hebat pak,,,saya diajari lho kalau di jogja"
"Oh iya,,dia memang kuat..kuaaaat sekali." kata ayah itu dengan memandang kedepan fokus pada jalan.
saat itu pula mata saya tidak lepas dari ayah itu,,,saat dia mengatakan hal tersebut rasa sayang ayah itu terlihat sangat besar terhadap anaknya...
begitu singkat begitu tulus...

pada perjalanan berikutnya saya menjadi saksi pujian dari seorang anak terhadap ayahnya...
kita sedang makan saat itu,,
ternyata makanan yang dihidangkan adalah masakan dari ayah teman saya itu
"setiap aku pulang, bapak selalu masak masakan yang berbeda. yang aku paling suka adalah telur dadar santan. hebat kan..." begitulah kira2 perkataan dari temanku
mungkin sangat sederhana...tapi saya yakin itu pujian paling tulus yang dia katakan hanya saat ayahnya tidak ditempat,,,
menyenagkan mendengarnya.





Jumat, 06 Januari 2012

Aku Ingin Jendela

aku ingin jendela. kamar kostku nggak ada jendelanya,,,
walupun mungkin tidak pengap
tapi ingin punya jendela
biar bisa melihat luar
jendela itu menyenangkan...

pengen punya jendela banget,,,aaaaaaa

Selasa, 03 Januari 2012

sebatas ombak dan pantai

sebatas pantai dan ombak. datang berkali-kali dan pergi lagi. 
aku sedikit heran. baru sadar hari ini. ketika kakiku berpijak pada pasir yang putih. ditemani ombak bergulung yang malu-malu saat sampai bibir pantai. menyapa kakiku lalu pergi lagi. datang lagi lalu pergi lagi. begitu berulang-ulang. sama sepertimu.masih malu.
awlanya aku senang merasa dibutuhkan, dianggap mungkin lebih tepatnya. dipercaya mendengar cerita rahasiamu. merasa aku memang telah menjadi temanmu. tapi lama-lama aku merasa itu hanya terjadi jika kau sedang bersamaku saja. berdua.
saat temanmu yang kau anggap lebih heboh, seru, dan meyenangkan datang. kau bagai ombak itu. malu terhadapku. malu-malu pernah mengenalku, yang mungkin kurang asik dibanding temanmu yang lain. teman. mungkin itu belum pantas untukku. karna kita berinteraksi hanya saat kau butuh, tanpa orang lain. dan pergi lagi.
sebenarnya sakit juga tak dianggap ketika kau sedang bersama temanmu yang lain. nyesek.sedih sih. tapi yo wis lah. aku masih punya banyak teman yang mau menganggapku ada dan tidak malu jika bertemu dengan teman2nya yang lain.
mungkin kita hanya sebatas pantai dan ombak. datang berkali-kali dan pergi lagi. tak pernah menyatu. bukan seperti ombak dan perenang,,yang akan menyatu ketika mereka bersama.

Rabu, 19 Oktober 2011

Ini tentang Aku dan Mereka

Air mata boleh berjatuhan tapi langkahku harus tetap tegar.
Malam itu sudah 8. Tinggal 4 untuk berganti hari.
Berjalan sendiri di jalan lurus menuju rumah kedua. Hatiku sesak, penuh gejolak. Bukan karena kau tapi karena mereka.
Aku belum bisa menyebutnya “kita” aku masih menyebutnya “mereka”
Bahkan setelah lebih dari dua generasi bersama, aku masih menganggap kita beda.

Awal aku melangkah masuk. Masih takut-takut. Takut melihat orang baru. Melihat mereka seperti melihat seorang professional. Dan benar mereka memang professional. Caranya bicara, caranya melihat sekitar. Tak hanya dengan mata, tapi dengan pikiran dan hati.

Kukira yang mereka kerjakan seperti yang kukerjakan dulu. Santai, tanpa banyak berpikir. Tapi disini lain ternyata, berpikir adalah sesuatu yang selalu ada di tiap nafas. Tiap hari, tiap waktu. Aku kaget dengan ini. mencoba menyesuaikan.

Saat semangat masih berkobar. Untuk belajar, untuk mengabdi. Pada “mereka” yang masih belum bisa ku anggap “kita”. Aku merasa mereka memandangku dengan sebelah mata, bukan tapi sekedipan mata. Layaknya debu yang mampir di mata. Dibiarkan sebentar, tak di anggap dan akhirnya tak dihiraukan. Mungkin yang kulakukan tak sehebat yang mereka lakukan. Tapi pengahargaan untuk jerih payah, mengayuh, menunggu, bertanya, menulis, berpikir, mengetik, menghindar dari keluarga, hanya dianggap kosong. Tak dilirik. Tak diteliti. Walau itu sangat penting bagi “kita” pelakunya.

Aku sadar aku kurang. Perlakuan mereka, membuatku merubah arah. Arah yang salah. Yang malah memilih menarik diri. Pergi menjauh dari mereka. Tak dihiraukan juga. Tak mengapa. Karena aku bukan apa-apa. Bukan salah mereka juga. Karena mereka bukan penentu pikirku. Hatiku dan jalanku.

Melihat dan mendengar. Itu menjadi aman. Menghindar dan menjauh. Itu menjadi nyaman. Dengan melihat dan mendengar aku semakin kagum. Dengan dia yang pernah memimpin. Bahasanya. Caranya memotivasi. Kadang membuatku terharu. Termotivasi. Dan semangat lagi untuk bersama “mereka”.

Dilain sisi. Aku melihat hitam. Noda. Yang tak nampak dimuka, namun di simpan di dalam. Banyak, semakin aku mendekat semakin gelap, pekat. Ada di tiap tubuh yang mereka bawa. Noda yang seharusnya kecil, oleh sebagian dari “mereka” di besarkan. Dibuat semakin suram. Tanpa mau membersihkannya.

Banyak belajar. Dari “mereka”. Dari yang “mereka” katakan, lakukan, dan “mereka” pendam. Maaf aku masih belum bisa menganggap kalian “kita”. Berbeda dengan kalian yang selalu bangga mempunyai dan berada didalamnya. Walau aku tak tahu itu nyata atau maya. Itu tulus atau palsu. Tapi aku masih belum bisa. Walau kalian paksa. Ini masalah hati. 

Dan malam ini pertama kalinya aku menangis karna “mereka”. Merasa sedikit menjadi bagian dari “mereka”. Nyesek. Geram. Pedih. Sakit. Memiliki. Dibuang. Direndahkan. Sok akrab. Sok kenal. Basa-basi. Bangga. Tertawa. Palsu. Aku. Kalian. “mereka”.

Sudah. Aku putuskan. Untuk “mereka” yang hanya tinggal menghitung hari, aku tak boleh menyerah. Walau air mata tumpah. Ini untuk “mereka”. Tak harus besar. Tapi kecil saja. Tak harus “kita”. Tapi “mereka” saja.

Sudah. Aku lelah. Terimakasih.

teman