Senin, 06 November 2017
#notitle
terkadang aku iri. padanya yang bisa berulang kali kau maafkan. padahal kesalahan kami sama. izinkanku kembali menjadi temanmu. atau paling tidak, menjadi orang yang tak kau anggap namun sudah kau maafkan.
Minggu, 03 Mei 2015
Ketika Rasa Syukur Menemukan Tempat Berlabuhnya
“Mereka datang seperti udara. Selalu hadir bahkan ketika rasa asing sering kali ikut campur."
Rasa syukur itu perlahan-lahan mulai memenuhi hati. Tiada lagi tanda tanya yang mengarah pada perlawanan. Cukup dan tidak berlebihan.
Menjalani tujuh bulan di tanah ini rasanya sudah tak lagi asing. Pertanyaan dan tanda tanya yang dulunya selalu bergeming ketika sedang hening, mulai menemukan jawabannya. Disini saya sadar bahwa ternyata semua doa terjawab dan terkabulkan. Tentu, dengan berbagai wujud dan waktu.
Doa saya dulu simpel saja. Hanya ingin mengunjungi berbagai belahan bumi Indonesia. Ia mulai menjawabnya dengan pulau kecil di samping pulau Dewata. Itulah sebuah titik dimana saya tersadar. Sebait doa saya terwujudkan. Begitu mudah dan lancar. Memenangi hadiah yang tak disangka-sangka dari Nya. Dan dihari pertama menginjakkan kaki di pulau tersebut ada benang takdir yang bersiap menyulam jalan hidup saya. Pulau di ujung timur Indonesia menentukan arah takdir saya selanjutnya. Awalnya memang saya kaget dan tak menyangkanya. Membanyangkan menyelami pulau yang gelap tanpa orang-orang terbaik yang selama ini setia membersamai kenyamanan bertumbuh. Membanyangkan menginggalkan tanah gemerlap yang memanjakan raga hingga keraguan dan kegamangan menyeruak disekujur tubuh. Namun ini juga ternyata jawaban doa simpel saya sebelumnya.
Dan ternyata menjadi bagian dari pekerjaan saya sekarang masih menjadi jawaban doa tersebut. Pekerjaan ini, mengizinkan saya menginggalkan jejak demi jejak di wilayah yang benar-benar baru dan tentu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pekerjaan ini, yang dulu pernah saya sesali ternyata menerbangkan saya ke titik-titik tak terjangkau akal pikiran maupun alam bawah sadar saya. Pekerjaan ini pula, yang memberi saya peta baru untuk menemukan harta karun ciptaan-Nya dan mengambilnya dalam bentuk syukur.
Itu baru satu doa. Ada doa lain yang ternyata Dia realisasikan dan Alhamdulillah saya menyadari realisasi doa itu. Ini menjadi modal awal saya untuk bersyukur. Rasa sadar. Doa agar selalu bersama orang yang baik dan memiliki kawan yang berlimpah. Kesadaran itu muncul begitu saja. Di tempat-tempat yang hangat akan tawa dan gurau. Di kursi dan meja kayu dengan secangkir kopi dan roti. Di pinggiran laut atau liku jalan yang berlobang besar-besar. Di hutan dengan bau kayu, daun dan tanah yang sangat harum. Mereka datang seperti udara. Selalu hadir bahkan ketika rasa asing sering kali ikut campur. Walau terkadang menjadi bahan mentah untuk di bully atau menjadi badut di tengah panggung bernyanyi, mereka pada dasarnya menyayangi. Mereka adalah jelmaan keluarga yang membersamai kehidupan masa lalu saya. Yang menjadikan rasa nyaman berada di tempat asing. Mereka bisa menjadi sosok ibu yang selalu mengingatkan, mengasihi, dan perhatian. Mereka bisa menjadi sosok ayah yang melindungi dan menghangatkan. Mereka bisa menjadi sahabat baik yang menghadirkan tawa lepas dan menangkal kesunyian serta keheningan tak lagi terasa canggung.
Tujuh bulan di tanah ini memberi saya banyak "pengertian"
Bahwa keindahan datang adalah ketika kita sadar untuk bersyukur.
Bahwa doa adalah jimat paling berkhasiat untuk penghilang firasat.
Bahwa jawaban doa tak hanya satu bentuk tapi mempunyai banyak turunan.
Bahwa keikhlasan adalah rasa ternyaman yang hati kita ingin rasakan.
Bahwa melepaskan adalah wujud tertinggi rasa cinta terhadap sesama benda.
Bahwa pertemuan dapat berlangsung lama tapi tak selamanya.
Bahwa perpisahan adalah tanda bahwa kehidupan memiliki ujung tanpa nama.
Dan bahwa saya masih belum bisa bersahabat dengan perpisahan adalah tanda hadirnya air mata.
Terimakasih Ar-Razzaaq atas segala berkah Mu yang tak kan bisa terhitung.
Terimakasih Al-Khaliq yang menciptakan kawan sebagai perpanjangan tangan.
Terimakasih Al-Samii' yang mampu mendengarkan walau kata tak terucap.
Terimakasih Al-Baasith yang memberi kelapangan hati agar tak mudah sakit hati.
Terimakasih At-Tawwaab yang selalu menerima taubat meski berkali-kali hambanya tergelincir di tempat yang sama.Bahwa keindahan datang adalah ketika kita sadar untuk bersyukur.
Bahwa doa adalah jimat paling berkhasiat untuk penghilang firasat.
Bahwa jawaban doa tak hanya satu bentuk tapi mempunyai banyak turunan.
Bahwa keikhlasan adalah rasa ternyaman yang hati kita ingin rasakan.
Bahwa melepaskan adalah wujud tertinggi rasa cinta terhadap sesama benda.
Bahwa pertemuan dapat berlangsung lama tapi tak selamanya.
Bahwa perpisahan adalah tanda bahwa kehidupan memiliki ujung tanpa nama.
Dan bahwa saya masih belum bisa bersahabat dengan perpisahan adalah tanda hadirnya air mata.
Terimakasih Ar-Razzaaq atas segala berkah Mu yang tak kan bisa terhitung.
Terimakasih Al-Khaliq yang menciptakan kawan sebagai perpanjangan tangan.
Terimakasih Al-Samii' yang mampu mendengarkan walau kata tak terucap.
Terimakasih Al-Baasith yang memberi kelapangan hati agar tak mudah sakit hati.
ALHAMDULILLAH.
Biak, 3 Mei 2015
=PAPUA, INDONESIA=
| Foto diambil di Monumen Perang Dunia Ke II di Biak Numfor, Papua |
Kamis, 09 Oktober 2014
Jarak, Doa, dan Kita
Tanah yang kita injak kini tak lagi sama. Tapi langit kita masih sama bukan?
Berat sekali ketika memberi kabar
bahwa aku akan pergi ke ujung Indonesia. Kota yang bahkan kita tak tahu letak
pastinya. Sampai harus bedebat dia di paruh atau di ekor. Kota yang dulunya
hanya berada dalam impian untuk bisa sekedar berlibur ketika uang sudah
bejibun. Mengatakannya saja sudah membuat perut mulas dan dada sesak. Apalagi
melihat tanggapan kalian. mulai dari kaget, sedih, ngejek, dan akhirnya
mendoakan dan meyemangati agar aku kuat disana. Betapa riuh pembicaraan kita
waktu itu. Walau tanpa sadar ada aliran perlahan dari sudut mata yang mulai
kabur.
Kalian tau? Aku beruntung memiliki
teman yang sebegitu baiknya mengirimkan boks warna pink berisi penuh benda-benda
manis didalamnya. Menerimanya dari bapak-bapak pengirim pesan dengan wajah
ramah kemarin. Ingin segera kubuka, namun urung kulakukan karena masih ada
pekerjaan yang belum rampung. Kubawa dengan hati-hati. Kubuka perlahan. Namun akhirnya
tak sabar. Pertama kali yang kulihat adalah sebuah gambar peta. Gambar
Indonesia sederhana dengan muka-muka imut dibawahnya. Dibawah pulau Jawa kau
gambar begerombol muka-mukamu. Dibawah pulau Papua kau gambar mukaku. Sendiri. Iya
sendiri. Melihatnya kembali membuat mataku berair.
Payung merah yang hot. Pasmina
penuh gambar. Tumbler gambar travelling. Toples kaca bertabur salju abadi
berwarna pink dan hijau. Berisi alat-alat pemanis tubuh. Mug berhias foto kita.
Serta foto dan pembatas buku paling indah yang pernah aku tahu. Benda-benda
yang pastinya kau pikirkan dengan sangat untuk keperluanku kelak. Perlakuan
kalian sungguh special. Untuk orang yang biasa ini. Untuk orang yang tak
bisa membalas ini. Yang hanya bisa membalas dengan tangan menengadah ke langit selepas
bersujud kepada-Nya.
Senang sekali aku mengumpulkan doa.
Doa agar aku sukses, doa sehat selalu, doa cepet dapet jodoh, doa agar betah
disana, doa agar tetap santik, mulus, dan unyu-unyu, doa agar ketemu
orang-orang baik hingga doa segera balik ke pulau Jawa. Kukumpulkan satu
persatu. Kuikat dengan erat. Dan kubawa terbang melintasi ratusan pulau hingga
di pulau paling timur ini.
Doa kalianlah yang ku bawa mengabdi.
Doa kalianlah yang kupakai untuk berdiri.agar tak lagi gemetar kaki ketika
menginjak tanah ini. doa kalianlah yang kugunakan sebagaii pelindung. Dari
ganasnya binatang kecil bersayap yang pandai terbang mengerubuti. Sehat-sehat
ya disana. Katamu kala itu. Doa kalianlah yang kusimpan dengan erat. Untuk
menguatkan ketika semangat mulai bergeliat dengan tanah dan tak mampu lagi
menembus langit.
Jauh atau dekat jarak, kita yang
ciptakan. Jika enam jam saja kita sudah mengeluh dan takut. Bagaimana jika
nanti sudah berbilang hari. bagaimana nanti jika sudah berbeda benua. Aku masih
dekat kawan. Masih dapat kau jangkau dengan mudah. Masih bisa menyusur sendiri
jalan untuk pulang. Masih ingat jejak-jejak dan petunjuk yang kalian berikan.
Jika tak ada jarak, maka tak ada
rindu. Tak ada sayang yang terucap. Tak ada rasa ingin bertemu. Tak ada cerita
untuk dipadu. Tak ada.
Biarkan rindu itu berbalas dengan pertemuan. Memang dia adalah candu dan kita adalah pemainnya.
*******
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tidak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.
(Spasi-Filosofi Kopi-Dee)
(kau akan tahu betapa beruntungnya aku dari foto-foto ini. I feel so looooooove)
![]() |
| aku suka ini. |
![]() |
| Surat Shinta part 1 (itu petanya) |
![]() |
| Surat Shinta Part 2 |
![]() |
| Mug narsis |
![]() |
| Surat Mirtsa |
![]() |
| Hot Umbrella |
![]() |
| Pembatas Buku paling keren |
![]() |
| Surat Windy Part 1 (nangis lagi) |
![]() |
| Surat Windy Part 2 (makin nyesek) |
![]() |
| Toples Cantik dengan Salju Abadi |
![]() |
| Tumbler Travelista |
![]() |
| Yes! You've Got a Friend |
Tengs Gals!!!
Senin, 15 September 2014
Samar akan Warna
Ketika sudah tersamarkan oleh sebuah angka dan raga. Merasa bahwa keceriaan hanya untuk mereka yang masih belia. Menisbikan warna dengan sifat. Menjunjung tinggi satu bentuk saja. Mendewakan satu kasta saja. Jika menjadi dewasa berarti menghapuskan kata warna dalam kamusnya. Baiknya kau tetap memilih belia.
Sabtu, 07 Juni 2014
Berlayar | "Ketika Laut Memanggilmu"
Subuh
ini kuantar kau ke tempat yang kau bilang paling nyaman. Subuh ini dengan
dingin yang mulai hilang karena tubuh kita yang terus berjalan. Subuh ini kau
memutuskan untuk kembali berlayar. Mencoba lagi merangkai jalan takdir yang
terlihat samar-samar yang kau yakini kini mulai terang. Berapa kali aku
menemanimu ke sini. Melangkahkan kaki dengan santai, namun kadang terburu-buru.
Rasanya sudah tak terbilang lagi kita berdiri ditepian pantai ini dan
mempersiapkan layar. Biasa saja. Tak ada yang spesial. Aku mencoba terus
berdendang, yang anehnya kau jawab dengan diam. Wajahmu sarat akan kata, namun
terus kau pendam.
Sebenarnya
mataku panas, bukan karena matahari, karena memang dia belum keluar. Sebenarnya
hatiku sesak, bukan juga karena baju yang terlalu ketat. Ini karena kau, yang
sedari tadi memilih diam. Tiba-tiba terdengar suara. “Tenang” adalah kata
pertamamu, subuh itu saat matahari mulai memunculkan sinarnya di cakrawala.
Saat kau mengatakannya tatapanmu lurus kedepan. Memandangi pasir dan lautan. Aku
yang dua langkah dibelakangmu seketika diam. Melihat bahu dan perahu. Yang aku
tahu nantinya akan melaju, menjauh dari tempat berdiriku.
| Pantai Bama Baluran | Banyuwangi 2013 |
Kau
adalah orang terakhir yang menemaniku di tempat ini. Awalnya kita berenam.
Namun semuanya telah berlayar. Tiap mengantar mereka ke tepian pantai ini. Aku
selalu menangis. Takut kalian tak lagi kembali. Takut ombak tiba-tiba besar. Takut
pulau seberang lebih menggiurkan. Satu tahun sudah sejak kawan pertama berlayar
tanpa kabar. Bayangan-banyangan hitam mulai berlarian di pikiran. Dan kau,
berdiri disini, berkata tenang. Setelah sekian lama hanya bungkam. Gila. Malah giliranku
yang sedari tadi berdendang, menyelimuti kekhawatiran, kini hanya bisa diam,
tegang.
Suasana
tak lagi nyaman, mata kita mencari-cari pengalihan, tak mau berpandangan.
Hatiku, mulai sesak. Dan kau pun mulai berujar. Inilah bagian terberat dari
melepaskan. Inilah bagian paling memilukan dari perpisahan. Apa itu? Kalimat-kalimat
pamitan.
“ Semua ini masalah kesiapan kita. Seberapa
keras kita menginginkannya ketika Tuhan tahu kita belum siap, Dia tak akan
memberi.”
Santai saja, walau sulit, anggap aku
berlayar mencari ikan di pulau seberang, yang nanti juga lebaran pulang lagi.
Kau mungkin merasa sudah siap. Sangat siap
malah. Tapi coba lihat perahumu secara lebih teliti. Layarnya masih belum
sempurna betul. Ada bulatan-bulatan kecil di pinggirnya. Dasar perahu juga
masih bisa tertembus air laut. Benahi dulu semuanya. Laut akan segera
memanggilmu.”
Tak
ada pelukan. Karena aku menolaknya. Takut nanti kukenang terus di jalan. Takut menambah
kesedihan.
Dan akupun
hanya bisa melambaikan tangan, sambil sesekali mengusap tangisan. Bergegas pulang
membawa kenangan. Yang pasti memenuhi pikiran semingguan. Selamat berlayar
sahabat.Tunggu aku di tempatmu. Atau tunggu ceritaku di pulau indah lain
nantinya. Kau benar, aku harus bersiap membenahi perahuku. Bukan hanya layar
dan dasar. Tapi bekalku melaut juga harus kupersiapkan dengan matang. Dan kini
anginpun mendorongku untuk segera pulang.
| Pulau Cipir | Kep. Seribu 2014 |
Langganan:
Postingan (Atom)
keyword
00:33 Kamar kost-Yogyakarta
(1)
1 November 2009
(1)
awal masuk SMA
(1)
bekerja
(1)
berkaca
(1)
bikin paspor
(1)
catatan pertemanan
(2)
Cerpen
(1)
cinta
(1)
introspeksi
(1)
Istimewa Yogyakarta
(1)
jalan-jalan
(1)
kesadaranku
(2)
kost2 an ceria
(1)
liburan lebaran
(1)
lirik lagu
(1)
lupa
(1)
manuscript
(1)
Mei 2010
(1)
pengertian
(1)
pesanan puisi pipit
(2)
puisi
(1)
rektorat UGM
(1)
teman
(1)
UTS
(1)











