aku ingin jendela. kamar kostku nggak ada jendelanya,,,
walupun mungkin tidak pengap
tapi ingin punya jendela
biar bisa melihat luar
jendela itu menyenangkan...
pengen punya jendela banget,,,aaaaaaa
Jumat, 06 Januari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
sebatas ombak dan pantai
sebatas pantai dan ombak. datang berkali-kali dan pergi lagi.
aku sedikit heran. baru sadar hari ini. ketika kakiku berpijak pada pasir yang putih. ditemani ombak bergulung yang malu-malu saat sampai bibir pantai. menyapa kakiku lalu pergi lagi. datang lagi lalu pergi lagi. begitu berulang-ulang. sama sepertimu.masih malu.
awlanya aku senang merasa dibutuhkan, dianggap mungkin lebih tepatnya. dipercaya mendengar cerita rahasiamu. merasa aku memang telah menjadi temanmu. tapi lama-lama aku merasa itu hanya terjadi jika kau sedang bersamaku saja. berdua.
saat temanmu yang kau anggap lebih heboh, seru, dan meyenangkan datang. kau bagai ombak itu. malu terhadapku. malu-malu pernah mengenalku, yang mungkin kurang asik dibanding temanmu yang lain. teman. mungkin itu belum pantas untukku. karna kita berinteraksi hanya saat kau butuh, tanpa orang lain. dan pergi lagi.
sebenarnya sakit juga tak dianggap ketika kau sedang bersama temanmu yang lain. nyesek.sedih sih. tapi yo wis lah. aku masih punya banyak teman yang mau menganggapku ada dan tidak malu jika bertemu dengan teman2nya yang lain.
mungkin kita hanya sebatas pantai dan ombak. datang berkali-kali dan pergi lagi. tak pernah menyatu. bukan seperti ombak dan perenang,,yang akan menyatu ketika mereka bersama.
Label:
catatan pertemanan,
kesadaranku
Lokasi:
Yogyakarta, Indonesia
Rabu, 19 Oktober 2011
Ini tentang Aku dan Mereka
Air mata boleh berjatuhan tapi langkahku harus tetap tegar.
Malam itu sudah 8. Tinggal 4 untuk berganti hari.
Berjalan sendiri di jalan lurus menuju rumah kedua. Hatiku
sesak, penuh gejolak. Bukan karena kau tapi karena mereka.
Aku belum bisa menyebutnya “kita” aku masih menyebutnya
“mereka”
Bahkan setelah lebih dari dua generasi bersama, aku masih
menganggap kita beda.
Awal aku melangkah masuk. Masih takut-takut. Takut melihat
orang baru. Melihat mereka seperti melihat seorang professional. Dan benar
mereka memang professional. Caranya bicara, caranya melihat sekitar. Tak hanya
dengan mata, tapi dengan pikiran dan hati.
Kukira yang mereka kerjakan seperti yang kukerjakan dulu.
Santai, tanpa banyak berpikir. Tapi disini lain ternyata, berpikir adalah
sesuatu yang selalu ada di tiap nafas. Tiap hari, tiap waktu. Aku kaget dengan
ini. mencoba menyesuaikan.
Saat semangat masih berkobar. Untuk belajar, untuk mengabdi.
Pada “mereka” yang masih belum bisa ku anggap “kita”. Aku merasa mereka
memandangku dengan sebelah mata, bukan tapi sekedipan mata. Layaknya debu yang
mampir di mata. Dibiarkan sebentar, tak di anggap dan akhirnya tak dihiraukan. Mungkin
yang kulakukan tak sehebat yang mereka lakukan. Tapi pengahargaan untuk jerih payah,
mengayuh, menunggu, bertanya, menulis, berpikir, mengetik, menghindar dari
keluarga, hanya dianggap kosong. Tak dilirik. Tak diteliti. Walau itu sangat
penting bagi “kita” pelakunya.
Aku sadar aku kurang. Perlakuan mereka, membuatku merubah
arah. Arah yang salah. Yang malah memilih menarik diri. Pergi menjauh dari
mereka. Tak dihiraukan juga. Tak mengapa. Karena aku bukan apa-apa. Bukan salah
mereka juga. Karena mereka bukan penentu pikirku. Hatiku dan jalanku.
Melihat dan mendengar. Itu menjadi aman. Menghindar dan
menjauh. Itu menjadi nyaman. Dengan melihat dan mendengar aku semakin kagum.
Dengan dia yang pernah memimpin. Bahasanya. Caranya memotivasi. Kadang
membuatku terharu. Termotivasi. Dan semangat lagi untuk bersama “mereka”.
Dilain sisi. Aku melihat hitam. Noda. Yang tak nampak
dimuka, namun di simpan di dalam. Banyak, semakin aku mendekat semakin gelap,
pekat. Ada di tiap tubuh yang mereka bawa. Noda yang seharusnya kecil, oleh sebagian
dari “mereka” di besarkan. Dibuat semakin suram. Tanpa mau membersihkannya.
Banyak belajar. Dari “mereka”. Dari yang “mereka” katakan,
lakukan, dan “mereka” pendam. Maaf aku masih belum bisa menganggap kalian
“kita”. Berbeda dengan kalian yang selalu bangga mempunyai dan berada
didalamnya. Walau aku tak tahu itu nyata atau maya. Itu tulus atau palsu. Tapi
aku masih belum bisa. Walau kalian paksa. Ini masalah hati.
Dan malam ini pertama kalinya aku menangis karna “mereka”.
Merasa sedikit menjadi bagian dari “mereka”. Nyesek. Geram. Pedih. Sakit.
Memiliki. Dibuang. Direndahkan. Sok akrab. Sok kenal. Basa-basi. Bangga.
Tertawa. Palsu. Aku. Kalian. “mereka”.
Sudah. Aku putuskan. Untuk “mereka” yang hanya tinggal
menghitung hari, aku tak boleh menyerah. Walau air mata tumpah. Ini untuk
“mereka”. Tak harus besar. Tapi kecil saja. Tak harus “kita”. Tapi “mereka”
saja.
Sudah. Aku lelah. Terimakasih.
Rabu, 27 Juli 2011
...
tiba-tiba keinget puisi galau yang pernah ku bikin pas SMA...puisinya masih tersimpan rapi di draft HPku yang sekarang sudah karatan...pas baca lagi...ketawa ketawa sendiri...sumpah galau abis.
AKU ADA
ku melihatmu tanpa kau ketahui
mataku yang tak pernah kau sadari
indah bila kau berlari
sakit bila tlah menjelang hari
aku tak butuh kau kenal
tak butuh kau datang untukku
siang malam aku disini
terdiam
bertanya-tanya
pertanyaan yang takkan mungkin kau jawab
pertanyaan yang jika ku tahu jawabannya
akan membuatku kecewa sedih dan kadang termenung
tak usah memandangku
matamu seolah memberi harapan
harapan yang sebenarnya palsu
Cukup!
aku hanya butuh satu
hanya butuh itu
hanya butuh kau tahu
bahwa aku adaSelasa, 26 Juli 2011
yang kau anggap teman
Kamu butuh audiens bukan teman. (Dee, “Madra”, hal 141, 2011)
Pertemuan ini kita yang rencanakan. Pada hari ketika semua
orang sedang berlibur jika mereka tinggal di Indonesia. Sebuah hari raya.
Mungkin juga untuk kita. Karena kita bertemu pada hari itu.
Pertemuan ini memang kita rencanakan. Tepatnya kau yang
mengajakku dan aku dengan sangat senang langsung mengiyakan. Kenapa? Karena
kita memang sangat jarang bertemu sejak kita terpisah oleh kota untuk mencari
apa yang mereka sebut sebagai rutinitas setelah tamat sekolah.
Hari itu aku bergegas untuk segera bertemu denganmu. Kunaiki
bus yang dulu sering kupakai jika aku akan pergi ketempat biasa kita dan
teman-teman kita berjumpa. Tepat saat aku melangkah turun dari bus aku
melihatmu. Dengan pakaian senada dengan warna daun-daun disekelilingmu. Saat itu
aku juga melihat guguran bunga warna kuning yang tersebar disekeliling kita. Sungguh
pemandangan yang sangat indah yang pernah kulihat.
Tak ada yang lain darimu ketika kujabat dan mulai tersenyum
padamu. Kau masih seperti kau yang dulu. Namun saat kau tiba-tiba bicara, aku
merasa ada yang lain. apa itu? Aku juga tak tahu.
Kau bicara dan terus bicara. Kau ceritakan padaku semua hal
yang kau alami tanpa aku. Dari tempat kau tinggal, tempat yang mereka sebut sebagai
rutinitas setelah tamat kuliah, lelakimu, orang-orang barumu yang aku belum
pernah mengenal atau melihatnya. Awalnya aku yakin ini masih kau. Dirimu yang
memang sangat antusias ketika bercerita hal yang kau alami tanpa aku. Namun, aku
merasa ada lain setelahnya. Apa itu? Aku masih mencarinya.
Ditempat itu kita berjalan, berjalan beriringan dalam suatu
hari ketika makhluk hidup lain sedang ikhlas untuk mati. Dan saat itupun kau terus
berbicara dengan ikhlas. Aku? Aku masih terus mendengar pula dengan ikhlas. Apakah
ini yang berbeda. Mungkin.
Kita menemukan suatu tempat baru. Tempat dimana kita harus
melewati jalan-jalan yang naik turun. Hingga akhirnya sampai pada tempat itu. Tentu
saja masih dengan bibirmu yang terus bergerak. Naik dan turun. Di tempat itu
kita makan.
Setelah berjalan jauh dan menemukan persinggahan untuk
makan, rasanya aku sangat lelah. Entah mengapa, bahkan biasanya akupun tak
pernah mengalami hal ini. mataku, kakiku, telingaku, hatiku. Hatiku? Entah mengapa
hatiku juga merasa lelah. Saat kau bicara lagi, aku memandangmu lagi. Mencoba menyimak
apa yang kau katakan. Kali ini tentang cintamu yang membuatmu mabuk. Tiba-tiba
cerita itu berganti dengan kejadian ganjil yang menimpamu beberapa waktu
terakhir. Tiba-tiba berganti lagi dengan kehidupanmu bersama kawan barumu. Yang
lebih suka kau anggap mereka sebagai musuh.
Belum sempat aku berkomentar tentang satu hal, kau sudah
mengalihkan lagi cerita yang lain. seakan aku ini tak harus berkomentar. Akalku
harus bergerak cepat untuk memberi komentar tentang ceritamu yang kadang kau
abaikan.
Handphoneku bergetar. Namun kau masih bergumam. Tanpa lelah.
Tanpa jeda. Hingga akupun sungkan untuk sekedar melihat pesan yang singgah d
handphoneku.
Kalimatmu mengalir bagaikan air terjun yang tak henti turun.
Kekuatannya tetap sama walau sudah jatuh puluhan tahun. Aku hanya bisa berucap,
“oh..ah..benarkah?..jadi begitu”.
Kaupun tak peduli dengan argument yang kadang kukeluarkan. Yang
semakin kesini semakin menunjukan kekesalan. Kau seolah berbicara disebuah
mimbar. Berpidato tanpa harus ditanggapi ataupun mengetahui apa yang orang lain
ingin katakan.
Tapi ini aku, teman. Aku adalah orang yang ingin kau
dengarkan kisahnya. Kisah yang kulalui tanpamu. Kisah yang kau tak tahu karena
kita jauh. Tapi mengapa kau seolah bicara tanpa peduli apa yang kuinginkan. Bukankah
kita bertemu untuk saling berbagi.
Kemudian saat makanan datang, kau mulai agak terdiam. Namun ini
tak berselang lama. Kau bicara lagi. Mengguruiku tentang makanan yang kumakan
dan menjelaskan makanan yang kau makan. Baik. aku tahu kau ahli. Tapi biarkan
aku makan sejenak.
Dalam perjalanan untuk mencari bus yang kutumpangi untuk
pulang. Aku masih berjalan didekatmu. Dan kau masih bercerita. Lagi-dan-lagi. Bahkan
taukah kau kadang ceritamu sudah kau ulang lebih dari dua kali. Tapi aku mulai
menyadari satu hal. Disini aku kau butuhkan sebagai tempat sampahmu yang
kaucari. Yang selama ini tak ada yang mau mendengarmu. Mereka yang kusebut
teman barumu, yang lebih suka kau sebut musuhmu.
Disinilah kau mencari teman lama yang kau anggap teman, tapi
tak kau perlakukan layaknya teman.
Teman bagiku adalah saling berbagi. Bagiku saling memberi. Tapi
kau tak mau mendengarkan kisahku.
Tak apa. Sampai disini aku tahu. Apa yang kutanyakan saat
kau mulai bicara tadi. Saat aku janggal ini bukan kau.
Benar, kau telah berubah. Mungkin fisikmu tidak. Tapi tingkah
dan perbuatanmu aku yakin ya. Berubah. Manusia memang terus berubah. Begitu pula
kau. Dan aku. Dan aku menemukan jawabannya saat melangkahkan kakiku di bus yang
mengantarkanku pulang. Yang kau masih sempat-sempatnya bercerita saat aku sudah
masuk pintunya. Ya, kamu butuh audiens, bukan teman. Itu sebabnya teman barumu
tak mau berbicara, karena mereka tak kau dengar sebagai teman.
Aku masih berharap kau berubah. Mungkin bukan aku, sebagai
dewa penolongmu. Yang akan menyadarkanmu. Karena aku hanya pengecut yang tak
mau menyakiti hatimu. Tapi aku yakin keadaan nantilah yang akan menyadarkanmu.
Jangan kau kuasai keadaan dengan bibirmu. Pahamilah dengan
telingamu. Cobalah dengarkanlah mereka yang mencoba menyadarkanmu. Dengan mendengar
kau akan tahu. Kau akan tahu apa yang mereka mau. Hatimu akan terbuka, karena
itu hanya bisa kau lakukan dengan mendengar.
Teimakasih.
Aku masih disini.
Masih ingin kau anggap sebagai teman.
Minggu, 10 Juli 2011
ada udara dalam kekosongan
sekarang kekosongan itu datang lagi. kosong menurutku sangat menyenangkan. dari yang kosong kita bebas mengisinya dengan apasaja.
karna kosong kita juga tak harus berpikir untuk menjaganya
karna kosong tak perlu takut akan hilang
walau kosong sebenarnya tetap ada isinya
ada udara yang selalu menempatinya
selalu ada walau ia tak diperdulikan
karna udara memang tak perlu dianggap
akan selalu ada dimanapun
menjagamu dan senantisa menemanimu
karna kosong kita juga tak harus berpikir untuk menjaganya
karna kosong tak perlu takut akan hilang
walau kosong sebenarnya tetap ada isinya
ada udara yang selalu menempatinya
selalu ada walau ia tak diperdulikan
karna udara memang tak perlu dianggap
akan selalu ada dimanapun
menjagamu dan senantisa menemanimu
Sabtu, 02 Juli 2011
galau
aku hanya ingin minta maaf,,,
karena aku melupakanmu
lupa akan ulang tahunmu
aku memang bodoh
aku mengingatkan orang lain akan ulang tahunmu malah aku sendiri yang lupa
sudah ku ingat ingat dari lama malah pada hari ulang tahunmu aku lupa
kukira hari menunjukan tanggal 1, jadi kupikir sudah terlambat,,,ternyata malah tanggal 29
ketika aku menelfonmu,,,taukah kau aku sangat takut,,,
namun ketika telfonku tak kau jawab, aku semakin takut
bagaimanapun kau berhak marah
maaf ya ndi,,,
sekali lagi Selamat Ulang Tahun
semoga bahagia dunia akhirat
kita tetap temenan kan ya?
love you....
karena aku melupakanmu
lupa akan ulang tahunmu
aku memang bodoh
aku mengingatkan orang lain akan ulang tahunmu malah aku sendiri yang lupa
sudah ku ingat ingat dari lama malah pada hari ulang tahunmu aku lupa
kukira hari menunjukan tanggal 1, jadi kupikir sudah terlambat,,,ternyata malah tanggal 29
ketika aku menelfonmu,,,taukah kau aku sangat takut,,,
namun ketika telfonku tak kau jawab, aku semakin takut
bagaimanapun kau berhak marah
maaf ya ndi,,,
sekali lagi Selamat Ulang Tahun
semoga bahagia dunia akhirat
kita tetap temenan kan ya?
love you....
Langganan:
Postingan (Atom)
keyword
00:33 Kamar kost-Yogyakarta
(1)
1 November 2009
(1)
awal masuk SMA
(1)
bekerja
(1)
berkaca
(1)
bikin paspor
(1)
catatan pertemanan
(2)
Cerpen
(1)
cinta
(1)
introspeksi
(1)
Istimewa Yogyakarta
(1)
jalan-jalan
(1)
kesadaranku
(2)
kost2 an ceria
(1)
liburan lebaran
(1)
lirik lagu
(1)
lupa
(1)
manuscript
(1)
Mei 2010
(1)
pengertian
(1)
pesanan puisi pipit
(2)
puisi
(1)
rektorat UGM
(1)
teman
(1)
UTS
(1)