Rabu, 15 Januari 2014

Mirror | Reflection

Mirror | Reflection (Bama Beach) | photo by: vandi
Kepulan asap dari secangkir kopi panas itu sudah mulai menipis. Ampasnya pun sekarang mulai turun kedasar. Aku tetap di sini. Tak beranjak sejak sore tadi.
***
Aku sangat nyaman dengan keadaan ini. Kamu berbeda dari yang lain. kamu seperti tujuan hidupku kelak. Walau aku tak tahu pastinya, karena tentu ada yang sudah tertulis di suratan takdirku. Kita memutuskan untuk mejadi teman baik. sahabat kala senja dengan secangkir kopi dan segelas susu putih hangat. Nampaknya beda. Namun jika kita menyatu akan menjadi perpaduan yang nikmat. Rasa yang nyaman. Rasa saling menerima pahitnya rasa kopi dan manisnya rasa susu. Kita juga sama-sama memutuskan untuk tidak menjadikan hubungan ini rumit. Sahabat. Itulah nama kita berdua. Walau kita sama-sama tahu ada rasa lain yang pelan-pelan menyusup dan tentu saja kita saling menepisnya. Tapi akhir-akhir ini malah aku yang kewalahan dengan rasa ini. benih-benihnya mulai merambat disekujur tubuhku. Ya aku memang telah jatuh cinta.
Aku memilihmu bukan karena aksara, tapi lebih karena aksi nyata. Kau tidak pernah memanjakanku layaknya lelaki pada umumnya. Mandiri. Sepertinya kata yang tepat untuk gayamu bersosialisasi. Membuatku betah berlama-lama menunggu balasan pesan singkatmu. Tanpa gelisah tak menentu. Kau mengajariku itu. Membiarkan rasa rindu terus menggantung di dimensi bernama pikiran. Agar aku tak manja. Dan agar aku tak menghabiskan waktu menunggu dengan hal yang sia-sia. Diakah? diakah yang Kau tulis namanya bersamaku di lembaran takdir milikMu? Diakah yang tangannya akan menggengam tangan ayahku dan membuatku berpindah posisi dari anak ayah menjadi seorang istri? Semoga hari ini adalah jawabannya.
//Jam 4 sore ya di tempat biasa. Ada yang ingin kusampaikan. :) //
// OK. //
Pesan singkatnya membuat aku gelisah. Membayangkan dia mengucapkan kalimat lamaran. Membayangkan pipiku memerah malu-malu. Dan menjawabnya dengan yakin bahwa aku mau. Bayangan-banyangan ini membuatku lupa bahwa waktu terus berjalan. Jam dinding menjadi menyebalkan karena rasanya dia berlari lebih cepat ke angka empat. Hingga akhirnya aku sudah berada di sini. Lebih cepat 5 menit darimu yang berlari-lari kecil menghampiri meja nomor 19.
“ Maaf terlambat, kamu sudah lama?” katanya tersenyum sambil menarik kursi. Duduk.
“Baru lima menit, santai saja.” Jawabku membalas senyumnya.
Sambil menunggu pesanan masing-masing. Kita bicara banyak hal. Layaknya sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Tertawa dan kaget saat ada hal baru yang baru kita dengar. Membicarakan alasan kau datang terlambat, kerjaan kantor yang semakin banyak, rencana liburan akhir tahun, hingga masalah jodoh. Inilah yang paling kutunggu. Semoga  saja pembicaraan berikutnya seperti yang kuharapkan.
“Sebenarnya kalau bicara masalah jodoh aku masih abu-abu. Masih meraba-raba siapa dan seperti apa dia kelak.” Diam sejenak. Dia menunduk, seolah memikirkan sesuatu. Bercerminlah. Aku disini siap memantulakan banyanganmu. Bukankan jodoh sangat mirip dengan diri kita? Aku siap jadi cerminmu. Dia mulai bicara lagi. Dengan masih menunduk.
“Tapi aku merasakan sesuatu yang lain kala kita bersama.” Dia mulai mengangkat kepalanya. “Kau pasti sudah mersakannya bukan? Ada rasa yang lebih dari sekedar sahabat di antara kita.” Aku mulai menata diri. Agar tidak terlihat terlalu canggung. Tidak pula terlihat bodoh dan terlalu berharap. Lanjutkan,,lanjutkan.
“Aku rasa kita bisa menjadi lebih.” Aku hanya diam dan memberi tatapan yang mengisyaratkan sebuah pertanyaan. Dengan mengkerutkan dahi dan memincingkan mata. Lanjutkan, batinku menyeruak.
“Begini. Bisakah kita menjadi lebih dari sahabat?” Susah sekali kau bicara, sesusah aku menyembunyikan rasa. Bibirku serasa tertarik ke atas. “Kita.” Hening sebentar. “Jadi sepasang kekasih.”
“Kekasih?” tak tahan aku diam.
“Ya, sebutlah itu pacaran.” Senyumnya lebar sekali.
“Pacaran?” wajahnya yang bahagia semakin bergeser ke mimik muka penuh pertanyaan. Apa ada yang salah? Aku bingung menjelaskannya. Yang ku inginkan pernikahan. Aku ingin menyempurnakan ibadahku. Bukan yang lain.
“Datanglah ke rumah bersama keluargamu, jika kau berkenan.” Aku memakai kalimat lain yang bermakna sama. Lamarlah aku. Kita menikah.
“Maksudmu menikah?” Wajahnya tiba-tiba syok. Apa yang salah. Ku jawab dengan raut muka. “Kamu terlalu cepat, Sarah. Menikah itu tanggung jawab yang besar. Keluarga, anak, rumah. Masih banyak yang harus kita kejar.”
“Kita bisa mengejar yang lain disaat yang bersamaan.”
“Ya, paling tidak dengan tidak menikah dulu. Pendekatan juga perlu bukan? kita pacaran dulu lah, dua tiga tahun.”
“Aku kira kita satu pemahaman, bukankan sudah jelas mana yang dihitung ibadah dan mana yang tidak. Aku tidak mau menghabiskan tahuanan bersamamu hanya untuk hal lain. Pengenalan. Masih kurang?”
“Tapi, kita kan ngga ngapa-ngapain.” Diam kembali merajai. Namun pikiran kita berbicara banyak hal. “Maaf, jika untuk menikah aku tidak siap dan belum berpikir ke sana. Sebaiknya kita berteman saja dulu.” Hening kembali menyeruak. Bahkan ucapan terimakasih lenyap saat pramusaji datang meletakan secangkir kopi dan segelas susu putih hangat. Dia mulai resah.
“Aku belum siap.” Aku hanya bisa menunduk. Sama dengannya. Tapi sedetik kemudian dia beranjak berdiri. Membuat kepalaku ikut mendongak. “Rasanya ada yang perlu sama-sama kita pikirkan. Aku permisi.” Dia mulai melangkah, berbalik arah dan berjalan ke pintu keluar.
Aku membiarkannya pergi. Tanpa sekalipun memanggilnya dengan lantang atau hanya dalam diam. Bukankah sebuah kalimat dalam puisi atau prosa membutuhkan spasi diantara kata-katanya. Agar bisa terbaca. Agar bermakna. Maka, itulah kita. Aku akan membuat jarak dan jeda diantara kita. Karena aku masih yakin itu kamu. Yang tertulis nanti di undangan pernikahanku. Aku hanya perlu menunggu. Menunggumu berbalik arah dan menjadikanku cerminmu.
#ShortStory

Kamis, 09 Januari 2014

My 2013!!

January
January make a journey. Perjalanan yang panjang saya tempuh ke ujung timur pulau Jawa. Menyambangi rusa, monyet, merak dan banteng. Lalu berlanjut ke sebuah kawah yang mengeluarkan api berwarna biru. Hanya ada dua di dunia. Sebenarnya perjalanan ini adalah hadiah setelah karya ilmiah a.k.a skripsi di setujui sampai BAB III. Dengan persiapan dua minggu saja, berangkatlah saya bersama beberapa teman SMA. Nice Trip!

February
Bulan ini penuh keceriaan dan cinta. My sister got married. Persiapan beberapa bulan sebelumnya terbayar dengan air mata kebahagiaan. Ketika semua orang meneriakkan kata SAH! Bulan ini juga bulan yang penuh drama. Kenyataan menjijikan dari orang yang tak disangka-sangka membuat mual jika diingat. But, it's ok to face up the disgusting tragedy.

March
Galaunya bukan main di akhir bulan. Batas daftar sidang di akhir bulan sempat ketar-ketir karena ada data yang salah dan baru tahu di akhir. Rasanya pengen nangis kalau harus ngulang dari awal lagi. Untuk bapak pembimbing, your SPG theory give me huge strength to face that day. Walau akhir bulan rasanya deg-degan dan pengen nangis, awal bulan sangat bahagia. Perlakuan super special dari teman-teman special membuat terharu sekaligus sedih. Seneng karena perhatian mereka luaaaaar biasa sampai bikin spanduk dan kue ultah cantik. Tapi juga sedih ngeliat kenyataan maybe this is my last birthday party with them. (versi lengkap banget)

April
Deg-degan nunggu jadwal sidang yang tak kunjung datang. Tiap hari belajar dari pagi sampai malam. Berguru dengan orang-orang baik nan cerdas di ruang 6 perpus pusat. Semua dengan satu tujuan yang akhirnya jatuh pada tanggal 18 April 2013. Hari yang bersejarah dengan sidang yang penuh tawa. I know that's You, yang membuat semua ini menjadi mudah. Dan doa dari mushola kecil disalah satu sudut rumah yang terus melantunkan  Al Fatihah hingga 1000 kali. (nangis banget saat tahu itu terjadi). Dukungan dan kekuatan kalian semua saya pakai hari itu untuk menyelesaikan 3 tahun 8 bulan di tanah rantau yang sudah seperti rumah kedua.


May
Bulan tersibuk mungkin. Melakukan perjalanan perayaan kelulusan dengan 3 orang teman wanita. Perjalanan yang ada di salah satu travel list saya, Bromo. Menghabiskan gajian terakhir di tempat kerja kemarin. Naik jeep, liat sunrise, dan glesoran di pasir berbisik. Alhasil pigmen kulit hitam semakin menyeruak keluar. Bedak adalah penyelamat kulit saat wisuda nanti. Setelah berjalan ke Timur lanjut ke ujung Barat pulau Jawa dengan beberapa perayaan. Adalah 21 Mei 2013 resmi tali topi toga saya bergeser dari kiri ke kanan. Kehadiran keluarga dan beberapa teman terbaik adalah kado terindah terlepas dari perayaan itu sendiri. Paket lengkap. Tentu saja hal ini adalah sebuah awal baru untuk tahap hidup selanjutnya. Persiapan tisu untuk beberapa farewell party harus ditumpuk mulai sekarang. 

June
Mulai bergerak kemana-mana untuk menyambut rezeki dari Alloh. Munafik rasanya jika kita hanya diam ditempat dan hanya menunggu. Kesadaran lain muncul menyadari kenyataan bahwa waktu saya di kota ini akan segera berakhir. Artinya menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih di kota ini dan selalu ada untuk mereka adalah kewajiban saya. Mengitari penjuru Yogyakarta dari hiruk pikuk kota hingga deburan ombak di selatan sana. Menangis sampai sesak di malam perpisahan dengan rumah saya selama 4 tahun ini. Memeluk mereka satu per satu saat video kenangan kita selesai diputar. Mengangkut barang dan boks-boks kenangan menuju kota kelahiran. Walau kita masih bertemu nanti, tapi ini perpisahan paling menyedihkan bagi saya.

July
Penuh ibadah. Bulan ketika tidak ada lagi beban skripsi dan fokus utama adalah bersyukur. Bersyukur dengan semakin mendekat kepadaNya. Semakin dekat dengan ibu-ibu mushola setelah tarawih. Belajar menyiapkan hidangan buka puasa dan sahur serta menepati target-terget ibadah dengan manajemen waktu yang ketat. Juli setahun yang lalu, saya belajar bersama tawa riang anak kelas enam SD. Bermain puzzle wajah, menyanyi lagu kebangsaan bersama, menanam benih tanaman di polybag dan tentu saja menangis membaca surat-surat polos kalian agar kami tidak melupakan dan suatu saat kembali. Juli ini penuh renungan. Kesempatan yang baik untuk mendekat padaMu dan pada keluarga.

August
Happy Eid Mubarak. Hari ketika janji Tuhan memberi banyak berkah bagi yang menjalankan Ramadhan dengan baik. Menyambangi rumah tetangga dan saudara. Merajut benang-benang silaturahmi dan menariknya menjadi senyuman maaf dan rantai-rantai doa. Masih dipertemukan dengan Ramadhan saja sudah merupakan berkah tersendiri. Menghadiri wisuda teman lama dan berkumpul bersama sahabat yang makin lama makin ulala. Reuni teman putih biru di acara buka bersama. Ada rasa yang menyenangkan dibalik kehidupan yang semakin mendesak maju.

September
Mulai lagi mendaftar-mencari rezeki. Lebih sering bingung. Bulan galau cari kerja. Banyak pertanyaan dari orang. Bingung jawabnya. Kadang cuma senyum saja. Kita harus memilih kan? Layaknya usaha kita tak mereka lihat. Jangan liat hasil dan tujuannya, lihatlah usaha dan prosesnya.

October
Nekat menembus hujan lebat untuk camping di desa tertinggi di Pulau Jawa. Mulai bosan dengan situasi yang terus sama. Berkenalan dengan banyak karakter dan mencoba jadi motivator bagi kagalauan beberapa sahabat. Belajar Indonesia dan belajar rumah tangga. Masih dengan pertanyaan yang sama, masih dengan jawaban yang sama. Masih menutupi sabuah rahasia dan masih berusaha melempar sauh agar tidak kembali di bibir pantai.

November
Banyak kesibukan membuat hari-hari terasa lebih cepat. Menapaki proses kehidupan. Berlibur bersama keluarga di sebuah candi serta mengunjungi sanak keluarga jauh. Berbagai macam tes dan berbagai macam harapan. Ada kenyataan yang harus dihadapi bahwa terkadang aksi tidak sama dengan rekasi. Walau mungkin reaksi ada berbagai bentuk. Bulan ini dihabiskan dengan ribuan doa untuk ini dan "itu".

December
Semacam penantian panjang yang terjawab hanya dengan rentetan tulisan. Menyaksikan luapan Alhamdulillah di langit-langit rumah yang mereka lafalkan. Subuh yang indah, keluarga yang hangat, rumah yang semakin lengang. Semuanya lengkap. Tambahan anggota baru di rumah kami membuat hidup semakin terasa. Bersyukur dan bersabar itu kuncinya.

Bama Beach (Baluran National Park) | photo by: Ardiyanta
The Most Beneficent (Allah)!  Has taught (you mankind) the Qur'an (by His Mercy). He created man. He taught him eloquent speech. (QS: Ar Rahman 1-4).

Kamis, 19 Desember 2013

Dimensi Bernama Pikiran


Dimensi itu telah dijaga (Foto: Universal Studio Singapore)

Ketika kita tak lagi bicara. Ketika semuanya menjadi hilang sempurna. Ketika suara lenyap dan bersisa hening. Ketika kita berada di suatu titik bernama sepi. Kamu di mana? Kita sudah tak ada.
Aku menyesal tidak memungut ceceran aksara kita yang berserakan beberapa hari kemarin. Dimensi bernama pikiran sedang merajalela. Diam dan sepi terus mengepung dari depan belakang kanan kiri atas bawah. Sudah saja. Biar semuanya menguap bersama kepulan asap. Sampai sini saja. Biar semuanya hanyut bersama derasanya hujan. Aku ingin terpejam, namun dalam gelap aku malah bisa melihatmu. Aku ingin diam. Tapi kita bisa bercengkrama dengan akrab di sana. Aku ingin hening. Tapi suaramu malah menggema memenuhi ruang nyata dan ruang imajinerku. Mungkin ini yang kau sebut kasta. Atau biasa mereka sebut ruang. Atau juga biasa kusebut jarak. Tak ada lagi aksara. Tak ada lagi suasana. Semuanya lenyap. Melebur dalam bentuk non materi. Terkadang suasana ini terasa nyaman. Namun terkadang ini menyiksa. Setelah banyak bicara. Kau  putuskan untuk diam. Pun aku juga sama. Saling memasuki dimensi pikiran satu sama lain. Sejauh apa kita berlari. Sekuat apapun kita menyerah dan mengagungkan ego dan gengsi. Karet itu akan semakin mementalkan kita ke belakang. Menyatukan rasa itu kembali. Walau ada jarak. Ruang kita tetap sama.
Dewata telah memutuskannya. Menjadikan kita layaknya dua sisi mata uang. Tak bisa saling melihat. Tapi kita tahu kita dekat. Tak bisa saling menyapa. Tapi kita tahu kita menyatu.

Sabtu, 07 Desember 2013

hanya mati suri

ternyata kamu tidak benar-benar mati. hanya mati suri.

Jumat, 29 November 2013

Untuk Kalian :)

ini adalah sebuah rasa syukur dan ucapan terimakasih..untuk dukungan, doa, pelukan hangat, canda, bahu serta lembaran tisu untuk menghapus peluh. untuk kebersamaan, cita-cita, harapan, penantian, dan terlampauinya satu tahap fase hidup. Alhamdulillah dan terimakasih.

Halaman Persembahan Skripsi April 2013:

1.  Kepada  yang  Maha  Pemberi  Nafas  dan  Akal  Pikiran,  Allah  SWT. Terimakasih  atas  kemudahan  dan  kelancaran  yang  diberikan  untuk menyelesaikan  skripsi  ini.  Terimakasih  telah  menjadi  pendengar  yang  baik  di malam-malam  tanpa  suara  dan  pemberi  jawaban  atas  semua  doa  tepat  pada waktunya.  Tanpa-Mu  tiada  arah  untuk  menuju  dan  tiada  damai  dalam  sebuah bisu.

2.  Ibu  Tri  Widianti  dan  Bapak  Edy  Purnama,  yang  telah  memberi  dukungan  dan doa  disetiap  hari  dalam  sujud  dan  rukuk.  Aku  yakin  banyak  sekali  doa  yang tak  terucap  yang  selalu  kalian panjatkan.  Masih  ingat  pesan  dalam  telepon dipagi  hari  saat  kegalauan  melanda:  “jangan mengkhawatirkan  hal  yang belum  pasti  terjadi”  dan  kata-kata  itu  sangat  berarti  sekali  dalam menggerakkan jemari untuk kembali menulis.

3.  Terimakasih  untuk  kakak  kembar  terbaikku  Ana  dan  Ani.  Kalian menginspirasiku  untuk mempunyai  anak  kembar.  Hehe.  Makasi  untuk dukungan  dan  semangatnya.  Terimakasih  juga   selalu menakut-nakuti  agar segera  lulus  dari  kampus.  Selain  itu  juga  Kakak  The  yang  selalu menyemangati dengan  gambar  dan  kalimat-kalimat  kocaknya.  Perjuanganmu pasti  akan  dibalas  dan  kesabaranmu  menghadapi  bocah-bocah  akan diperhitungkan.  Hehe.  Bude  watik,  bulek  ucik  dan  embah  dju  yang  paling oye. Makasi ya dukungannya.

4.  Anak-anak  KARABE  ceria  yang  selalu  menjadi  tempat  pulang  sebagai  rumah kedua.  Nanda  dengan  keberanian  dan  sikap  tegasnya.  Ratih  yang  kata-kata meyakinkan  tanpa  tahu  bohong  apa  enggak.  Maya  yang  polos  dan  suka nggembesin  ban  motor.  Dyah  yang  selalu  galau.  Mia  teman  begadang  dan teman  ndopok  saat  rasa  malas  mengerjakan  skripsi.  Ruang  TV  udah  jadi kamar kedua  dan  mirota  jadi  kampus  pertama  (eh).  Silva  yang  rempong  dan selalu  menyapa  kalau  aku  lagi  pulang  dari  kampus.  (Hey  Ceuu).  Nindi  yang suka  masak  enak  dan  melipat  baju2  jemuran.  Bagi  si  Ndi  sifat  rajin  kamu  ke aku.  Kiki  si  kelebihan  otak  kanan,  tangan  kiri  selalu  keder.  Terimakasih semua.  Bunca  (intan)  yang  suka  cium-cium  dan  Naya  yang  ingin  mengangkat Indowood sebagai pengganti Bollywood.

5.  Richu  teman  sesama  bimbingan  pak  Sumi  yang  paling  panikan.  Kalau  kamu nggak  panik  aku  mungkin  bakalan  ngegampangin  semua  hal.  Hehe.  Kemanamana  bareng,  ngurus  ini  ngurus  itu.  Bimbingan  sampai  di  acc  dan  kamu akhirnya  sarjana  duluan.  Makasih  ya  cu  buat  semuanya.  Buat  Citra  makasih juga buat semangatnya,tiap hari ke perpus dari pagi sampe sore. Jadi tahu cara buka lemari pinjaman. Hahaah.koplak banget. 

6.  Terimakasih  untuk  teman-teman  FEB  angkatan  2009.  Aku  pasti  malas  kuliah kalau  nggak  ada  kalian.  Alyn,  cewe  yang  super  sekali  semangatnya.  Kamu makan  apa  sih  lin.  Ngga  ada  matinya  banget.  Makasi  ya  nasehatnya  dan bimbingan  renangnya.  Ola  si  gadis  sampul  (eh)  yang  perhatian  parah.Ngingetin  makan,  tidur,  mandi  dihari  sebelum  pendadaran.  Serbuan  kecup buat  kamu. Fela,  mbak-mbak  paling  sabar.  Apa  yang  bisa  bikin  kamu  marah Fel?  You  Know  Me  So  Well.  Kelakuan  ganjilku  selalu  bisa  kamu  lihat.  Arni, makasi  ya  udah  ngajarin  aku  kerja  keras  dan  tegas.  Kamu  juga  rajinnya  luar biasa,  Inget  banget  pas  TA  aku  malah  suka  tidur  daripada  ngerjain  tugas.
Nadhia  yang  selalu  sabar  dan  cantik,  peluk2.  Kapan  kita  main.  Ngga  jadi2 mulu.  Mba  joke  si  pintar,  Dhany  dan  Ninggar  yang  udah  punya  anak.  Mba Tia, Vinda, Ade, Ferawati Dwiningrum. Kalian semua luar biasa. 

7.  Keluarga  besar  JRAI.  Bahagia  sekali  bekerja  di  sini.  Banyak  sekali  manfaat dan  kesenangan  yang  saya  dapatkan.  Terimakasih  untuk  Pak  Mahfud  yang selalu  mengejek  saya.  Saya  tahu  Pak  itu  hanya  becanda.Terimakasih  atas  doadoa  dan  perbincangan  bahasa  Arabnya  dengan  Pak  Fuad  dan  tentu  membuat saya  bingung.  Tapi  itu  memotivasi  saya  untuk  bisa  berbahasa  Arab  kelak.Mba  Diniiiii,  aku  seneng  banget  ketemu  orang  seperti  kamu  mba.  Satu pemikiran  walau  tanpa  kata-kata.  Pembimbing  yang  sabar.  Mba  Bunga  yang menginspirasiku  untuk  nikah  muda,  Mba  Ayu  yang  selalu  gaul  dan  tegas. Suka  mba  dengerin  kamu  kalo  lagi  telfon.  Adiatma  si  pendiam  yang  niat banget  pas  mau  diramal.  Haha.  Dan  Mami  Wilya  yang  selalu  heboh  dengan apapun. JRAI sepi mba kalo ngga ada kamu.

8.  Guru-guru  kompre  Mas  Geri  dan  Mas  Giras.  Makasi  banget  atas bimbingannya  dan  pertanyaan  “kenapa  ini  kenapa  itu”  semoga  ilmu  kalian dibalas nantinya.  Dosen favorit saya Pak  Irfan. Bimbingan rohaninya sungguh menentramkan  ketika  saya  galau  ujian.  Kata-kata  Bapak  seperti  meminum susu  coklat.  Menenangkan.  Pak  Taufiqurahman  saya  selalu  ingat  kata-kata Bapak,  “Pada  akhirnya  hasilnya  hanya  ada  dua.  Lulus  Anda  jadi  bersyukur dan Tidak Lulus Anda jadi bersabar. Tidak ada yang buruk bukan?”.

9.  Teman-teman  pendadaran  April.  Richu,  Randy,  Mas  Adam,  Mas  Saset,  Mas Kobul Ke”pethukan”  kita  akan  selalu  saya  ingat  terus.  Kita  harus  beli  buku SPG Theory nya pak Sumi. Wajib.

 10. Teman2  KKN  Wonosobo.  Terimakasih  untuk  pelangi  di  bulan  Julinya.  Fela, Resdi,  Setiyadi,  Bapak  Opik,  dan  Mas  Teguh.  Ratih,  Dita,  Laras,  Mimin, Mayang,  Rifky,  Libra,  Wendy,  Amar,  Deles,  Dono,  Indra,  Mas  Yakub,  Mas Megah,  Septi,  Nurul,  Natia,  Adi,  dan  Aji.  Menyenangkan  sekali  bertemu kalian semua.

11. Anoman  Sejahtera.  Walupun  kita  saling  berjauhan,  tapi  aku  yakin  kita  saling mendoakan.  Windi,  Zara,  Shinta,  Nanda,  Sylvi,  Fahmi,  Nura,  Mirtsa,  Yaya, Stevy,  Pinda,  Desti,  dan  Ika.  Kalian  adalah  salah satu  alasan  aku  untuk pulang.

12. Teman  jalan-jalan  dan  mbolang  paling  oke.  Vandi,  Gibul,  Yanta.Merencanakan  perjalanan  saja  sudah  membuat  saya  senang.  Terimakasih  atas iming2 jalan2 setelah saya lulus. Itu sangat memotivasi sekali.

ini untuk kalian

Jumat, 15 November 2013

:)

Hargai saya yang berjilbab saat bertemu tukang nasi goreng, sebagaimana saya menghargai anda tidak berjilbab saat pergi ke mall. Terimakasih. :)

Jumat, 08 November 2013

Saya Mau Bicara dengan Anda

Waktu tidak bisa menyembuhkan, dia hanya membuat kita lupa. (Reza Gunawan).


*baca dengan perasaan intonasi marah (Ingat, hanya intonasinya saja)*

Untuk Anda yang namaya seperti wanita. Saya tidak tahu Anda sebaik apa. Karena memang saya tidak mengenal Anda mendalam. Tapi saya ingin bicara dengan Anda tentang sebuah pengorbanan. Saya tahu kita tidak akan bisa mengobrol panjang, karena saya juga tak mau. Sekali lagi saya hanya ingin memberi tahu tentang sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk Anda tentunya.
Foto: Lukisan di WaterBlaster
Cerita ini berawal dari sebuah pesan singkat dari seorang teman baik saya. Pesan singkat bahwa dia bertemu dengan wanita dalam sebuah rumah makan. Apa yang dia sampaikan di pesan singkat itu? Dia merasa takut. Dia seolah ingin menghindar dan pura-pura tidak melihatnya. Lalu siapa sebenarnya wanita ini? Siapa juga teman baik saya yang mengirim pesan singkat di penghujung sore tadi? Apa hubungan mereka dengan Anda? Ya, mereka berdua adalah orang yang sangat Anda kenal. Yang satu pacar Anda saat ini dan yang satu calon pacar Anda dahulu, atau lebih tepatnya “selingkuhan” Anda. Tapi apakah Anda benar-benar mengenal mereka berdua secara utuh? Saya yakin tidak.
Teman saya sering bercerita kepada saya, betapa Anda yang sama seringnya bercerita kepada teman wanita Anda yang lain saat itu. Sudah tahu kan maksud saya disini? Pacar Anda, sampai menangis sesengukan. Pernah. Sampai tidak nafsu makan. Pernah. Lalu pernahkah Anda berpikir bahwa mengkhianati janji bisa membuat pihak lain terluka? Anda dengan seenaknya bemain-main dengan teman wanita Anda. Dengan baik hatinya mengantar pulang sampai rumahnya. Berkirim-kiriman pesan sampai larut malam dengan kata pemanis di penghujung berakhirnya pembicaraan. Coba tengok ke arah yang lain. Pacar Anda dengan sekuat tenaga menjaga hatinya untuk tidak tengok kanan kiri. Karena dia hanya fokus melihat ke depan. Yang dia yakini ada Anda di depan sana. Dia dengan segenap jiwanya mencoba untuk selalu memaafkan Anda yang dengan enaknya memakai pemberian maaf itu sebagai semacam izin untuk mengulanginya kembali. Kenapa? Mau menyela? Apa memang benar semua ini? Saya mohon dengarkan saya dulu.
Pacar Anda yang sangat sabar menghadapi Anda, apakah menurut Anda tidak trauma dengan kelakuan Anda itu? Anda pikir dia baik-baik saja saat memberikan maaf dan kesempatan bagi Anda untuk kembali menemani hidupnya? Anda salah. Dia yang Anda pikir baik-baik saja. Sebenarnya sangat takut. Sangat takut Anda melakukan hal yang sama. Lagi dan lagi. Dia selalu gemetar dan gentar saat melihat wanita itu melintas tak sengaja di depan mukanya. Dia bahkan takut dan “nyesek” saat ada nama yang sama dia jumpai di majalah atau dia dengar di radio. Dia yang selalu bertemu dengan wanita itu tanpa sengaja karena kota tempat tinggal yang sama. Bertemu di kampusnya. Bahkan di mimpi-mimpinya dan di pikirannya yang kadang membuatnya sering bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku tidak pantas ya untukmu? Kadang rasanya ingin saya gampar teman saya ini. Karena yang tidak pantas untuknya itu ANDA! Dia terlalu baik. memaafkan setiap kesalahan Anda. Merajut kembali benang-benang yang sempat bercabang ke rumah tetangga. Memberi kesempatan baru dan menguatkan diri setiap hari bahwa dia akan memperbaiki diri. Untuk siapa? Untuk ANDA.
Ada saat dimana saya ingin menyarankannya untuk melepas Anda saja. Tapi sekali lagi saya tekankan. Saya sama sekali tidak mengenal Anda. Saya hanya tahu Anda lewat cerita-ceritanya. Saya hanya berbicara dengan Anda seperlunya. Pembicaraan terbanyak saya dengan Anda ya lewat tulisan ini. jadi teman sayalah yang benar-benar mengenal Anda.
Hari ini lewat pesan singkatnya, dia berkata. Anda telah memilih dan dia pantas dipilih. Tapi menurut saya, Anda lah yang dipilih karena dia terlalu baik untuk Anda. Semoga Anda bisa merubah diri untuknya. Memperbaiki kelakuan Anda dan tidak akan mengulangi hal yang sama. Saya rasa ini saja. Jaga dia jika nanti Anda memang memutuskan untuk hidup bersamanya sampai mati. Terimakasih telah mendengarkan, maksud saya membaca tulisan ini.
 

teman