Sabtu, 08 Februari 2014

Untuk yang Namanya Belum Kutahu



Sugguh bagiku ini pengalaman perdana. Rindu pada manusia yang belum pernah ku lihat wajahnya.
Kamu, apa kabar di sana? Mudahkah hidup di dunia penuh misteri?
Aku masih di sini. Selalu menunggumu hadir. Tanpa tahu kau nanti seperti pelangi atau matahari.

***
Untukmu yang sebentar lagi lahir ke dunia.        
Ada rasa yang penuh dengan buncahan gembira. Dalam hatiku yang dekat dengan di mana kau berada.
Banyak pula tanda tanya di kepala.
Kau nanti seperti apa.
Apakah mirip mama. Ataukah mirip dengan papa.
Aku hanya bisa menerka-nerka. Melihat fotomu yang masih samar-samar bergeliat manja.
Sugguh bagiku ini pengalaman perdana. Rindu pada manusia yang belum pernah ku lihat wajahnya.

Kau tahu aku sangat bahagia.
Bagaimana tidak, kau adalah putra pertama. Pun juga cucu pertama di keluarga mama.
Kami semua menanti suara. Suara tangis dari bibirmu yang merekah.
Kami semua menanti rupa. Rupa merona dari pipi lembutmu yang halus luar biasa.

Rencananya Nak, kau akan hadir di bulan kedua.
Bulan yang tanggalnya tak banyak seperti bulan lainnya.
Bulan dimana aku dan papamu memutuskan untuk hidup bersama.
Dan aku di sini semakin sering berdegub-degub untuk menantimu.
Kau pasti juga merasakannya bukan? karena tubuh kita menyatu. Saling padu.

Kau mau tahu anakku.
Saat alat periksa dan dokter berkata kau ada.
Aku memutuskan untuk lebih bijaksana.
Aku semakin sering berdoa padaNya. Agar terus dipercaya memilikimu di dunia.
Aku semakin sering membaca dan bertanya. Pada mereka yang sudah berpengalaman melahirkan manusia ke dunia.
Aku semakin sering belajar agama dan melantunkan ayat-ayat suci. Karena aku mau mengajarimu nantinya sebaik mungkin.
Aku semakin sering berolahraga. Agar kau sehat di dalam sana. Pun juga ketika lahir ke dunia.
Aku juga memilah-milah asupan makanan yang masuk ke tubuh kita. Jangan meronta ya. Rasakan saja berbagai makanan itu. Agar kau tak kaget nanti memakannya di dunia barumu.
Tentu aku akan memberikan yang terbaik untukmu.

Mencarikan nama untukmu juga sudah kucicil bersama-sama.
Aku mau kau nanti bangga membawanya. Karena nama, terbawa sampai kau menghadapNya.
Aku juga mau kau nanti tak malu memperkenalkan namamu dengan teman-teman sebaya.
Nama yang bersinar dan memberi kehormatan bagi yang menyandangnya.
Kami bingung. Mahendra atau Purnama.
Tapi ini masih rahasia.

Kau tahu Nak, papamu juga banyak berubah.
Dia lebih sering berpuasa. Sering bercengkrama dengan pemilikMu di malam tanpa suara.
Dia juga lebih sering berlatih melantuknan adzan. Agar fasih dan benar bunyinya.
Karena nantinya dia yang membisikkan suara adzan itu di telingamu.
Kau harus mendengarkannya ya. Suara itu sangat indah dan akan menuntun jalanmu untuk pulang.

Walau aku sangat mendambamu. Tapi aku takut akan sembilu hadir di hatiku. Saat kita nanti tak lagi satu raga.         
Sembilan bulan bersama, berdua dalam satu raga. Ini adalah hubugan terdekat kita. Ini adalah kedekatan paling utama.
Pesanku padamu Nak, jangan takut dunia.
Kau sendiri bukan, yang meminta pada Tuhan untuk dilahirkan.
Masih banyak orang baik yang ada. Kau pasti menjadi salah satunya.
Tapi jangan kaget jika ada sifat kebalikannya. Kau pasti bisa mengatasinya.
Karena aku akan selalu bersamamu sampai nafasku tak lagi berhembus.

Jika kelak kau ditanya siapa yang paling mencintaimu.
Kami adalah jawabnya.
Cinta kami ada bahkan sebelum kau ada di dunia.



if you want to peek more pictures just click anadanandit 

All pictures captured by wulanasihsetyarini
Email: wholzy@gmail.com



Selasa, 04 Februari 2014

Mendongak Temukan Stalaktit, Menunduk Temukan Stalakmit.


follow me! | Museum Karst-Wonogiri


A whole new world. A new fantastic point of view. No one to tell us no. or where to go. Or say we’re only dreaming.
A whole new world. A dazzling place I never knew. But now from way up here. It’s crystal clear. That now I’m in a whole new world with you.** 

Sepertinya mau loncat-loncat. Agar rasa kantuk selepas subuh lenyap. Namun urung. Karena persiapan belum juga rampung. Pergilah saya menerjang subuh, bersama himpitan dingin yang menusuk. Melewati gua, sawah dan waduk. Tak lupa rumah, gedung dan warung. Dan sampailah saya di sebuah universitas, walau dengan tersesat dan tanya sana sini. Universitas ini memiliki memori tersendiri buat saya saat masih kecil. Beberapa kali saya di ajak bapak berkeliling kampus ini untuk mengurusi kuliahnya. Yang saya tahu saat itu hanya banyak orang dewasa di mana-mana. Berkenalan dengan mbak-mbak yang suka mencubit pipi saya. Sholat dhuhur di masjidnya dengan takut-takut. Karena bapak masuk di saf lelaki dan saya harus sendirian di saf wanita. Memasuki jalan kampusnya kemarin dengan di jemput dua orang teman, menarik kembali memori belasan tahun lalu.


Setelah beberapa menit menunggu yang belum mandi dan yang belum datang. Berangkatlah kami berlima menuju sebuah museum karst di Pracimantoro, Wonogiri. Sebelumnya menjemput satu teman lagi yang rumahnya di Wonogiri. Karena banyak aral, semacam lelet, ban bocor dan sedikit gerimis maka waktu berjalan cepat dan perut mulai lapar. Kami makan dulu di warung makan tepian waduk gajah mungkur. Di temani petikan sitar dan suara ibu-ibu bermake up tebal berdendang lagu jawa.

Lanjut berkendara ke tujuan awal. Bertanya dua kali dan sampailah kami di Museum karst yang baru di resmikan tahun 2009. Setelah menunaikan ibadah, kami masuk ke museum yang harga tiketnya hanya 2100. Berkeliling, foto-foto, mencet-mencet tombol dan terkagum-kagum karena museumnya masih bersih dan terawat. Jadi tahu apa itu karst, yang mana stalaktit dan yang mana stalakmit. Kehidupan jaman dulu di goa-goa dan manfaat karst masa kini.

Setelah melalui pintu keluar kami sempat bingung memutuskan mau ke lurus atau ke kanan. Rasanya ke kanan dan melihat pura adalah pilihan tepat karena jaraknya dekat. Menaiki puluhan anak tangga yang di tengahnya ada semacam jalan untuk kereta barang. Puranya sudah nampak, Tertutupi semak-semak. Bergerak dan berdecak. Tentu saja sambil bergerak dan bergaya saat kamera dibiarkan mengambil gambar secara mandiri. Turun lagi ke bawah dan memutuskan berkendara ke goa.

Langit yang mulai mendung membuat kami segera bergegas pulang. Mampir ke rumah saudara salah seorang teman yang katanya dekat, tapi kok ya lumayan. Di jamu makan siang dan cerita menarik tentang pertanian dan cerita keturunan mereka.

Pulang. Dengan guyuran hujan deras dan sempat berteduh di rumah warga yang baik hati. Mampir ke Wonogiri lagi dan berpamitan dengan ibu ramah, ibu teman kami.


***

Jadilah pemeran utama. Bukan hanya pemerhati cerita. Berdiam diri terjepit dinding rumah, tebalnya buku perjalanan, atau cerita dari mulut manusia tidak akan cukup. Semua itu akan lebih nyata jika kita sendirilah pemeran utamanya. Mendongaklah ke atas di manapun kita berada, langit akan tetap sama. Tapi menunduklah dan melihat sekitarmu, keindahan yang luar biasa akan terpampang disana.

Perjalanan kemarin membuat saya semakin kaya. Mulai dari mendapat teman baru, mendapat ingatan baru, pengalaman, tempat dan situasi yang berbeda. Berbincang tentang kuliah, skripsi, karir dan cita-cita. Hingga bercerita tentang anak mas, gerhana, angling dharma, dan wiro sableng kecil yang katanya dari Wonogiri. Tanpa lelah hingga nasi dipiring lupa dimakan. Berdebat tentang Es Goreng atau Es Kado. Tata Boga atau Taekwondo. Menemukan air haram di mulut goa dan muda-mudi di pinggiran jalan bersemak. Mendengar cerita tentang video editing, jagung yang bagus, hingga cerita cinta yang tumbuh dari sekolah dasar. Tak lupa cerita masa lalu. Tentang ikhlasnya warga hijrah dari Wonogiri. Sebaliknya ada juga yang merantau dari Salatiga dengan berkuda. Berfoto gaya Power Ranger. Dan menyadari salah satu diantara kami mirip Febri Idol, dia bilang malah Fedi Nuril. Hujan kemarin menjadi pelicin jalan agar perjalanan kami semakin lancar, walau cipratan genangan air dari truk pertamina memang menyebalkan. Tapi semuanya terbayar. Dunia baru yang hanya didapat jika kita bergerak. Bukan hanya digerakkan oleh rotasi dan revolusi bumi. 

A whole new world. A hundred thousand things to see. I’m like a shooting star. I’ve come so far. I can’t go back to where I used to be. 
A whole new world. With new horizon to pursue. I’ll chase them anywhere. There’s time to spare. Let me share this whole new world with you.**


**(A Whole New World – OST Aladin)

Belajar kemarin

#Karst : adalah sebuah bentukan alami dari proses pelarutan dan penggendapan kalsit yang biasanya ada di gua-gua. Bisa untuk tempat penyimpanan air dalam gua sebagai sungai atau air tanah.
#Stalaktit : batuan atau mineral sekunder yang terbentuk dari tetesan air di daerah kapur melalui celah batuan yang letaknya di atap gua. Bentuknya biasanya meruncing ke bawah.
#Stalakmit : bedanya ada pada letaknya yang di bawah (dasar gua). Meruncing ke atas.

==  Photo Gallery ==


stalactite or stalagmite? 
one corner of the museum

butterfly collection at the museum

main collection

places of worship (temple)

do you thing this is real? (it's artificial)
The real one (similarly as the top, right?)

power ranger squad!!!
Thank You all! (Pracimantoro - Karts Museum)

candu

"kubilang rindu, kau jawab dengan candu."

Selasa, 21 Januari 2014

After New Year's Eve


Diantara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu yang paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedauan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki gunung. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi.  (Sunset Bersama Rosie-Tere Liye)

Mendapati ponsel yang terus bergetar, akhirnya saya bangun. Kaget karena sudah pukul 5. Bergegas beribadah dan melesat menuju rumah si Preman Tingkir. Tentu saja tak jadi mandi. Hawa dingin kota hati beriman menyurutkan badan untuk berbaur dengan air dan sabun. Subuh, sehari setelah perayaan tahun baru semalam. Jalanan sepi, rumah-rumah masih betah meyalakan lampu. Jadi kupercepat laju kendaraan, walau akhirnya menyesal karena kedinginan.

Subuh memang selalu indah. Saya dan Zara akhirnya bertemu Windi dan keluarganya. Beramah tamah dengan keluarganya dan mengintip Koko yang sedang tidur. Tentu saja dengan bapak dan ibunya. Tak tahan melihat godaan itu, berangkatlah kita secepanya. Menggeber motor dan menerobos jalanan Salatiga-Ampel-Boyolali. Berbelok ke Jatinom dan menyadari bahwa jalan favorit saya masih selalu indah. Apalagi di pagi hari.

Hujan mulai turun di kota dengan foto Pak Sunarna dimana-mana. Klaten BERSINAR, tapi sekarang sedang Hujan. Memutuskan untuk mencari kehangatan dengan makan. Namun warung pinggir jalan masih tutup. Dan “soto sop” di depan Candi Prambanan akhirnya jadi pilihan.

Melanjutkan perjalanan ke selatan. Bukan mencari kitab suci tapi mencari matahari. Tapi yang dicari malah sembunyi bersama awan. Tujuan pertama sudah di depan mata. Kado sebesar karung yang di bawa Zara jadi perhatian banyak mata. Sebuah barang di tempat yang salah.

Naiklah kita ke atas. Dengan sepatu salah. Lupa kalau ini alam, bukan mall. Maka melepasnya dan “nyeker” sampai atas adalah pilihan yang tepat dengan tanah yang licin sepeninggalan hujan semalam. Berjalan ke atas dengan dua orang yang baru pertama naik-naik ke puncak gunung ini lucu sekali. Mereka takut, tapi penasaran. Mereka ingin pulang, tapi sudah kepalang. Jadi, setapak demi setapak kami naik Gunung Api Purba yang ramai sekali. Bergantian mengalah dengan pendaki yang lain. Walau terkadang sebal karena di "jalan satu badan manusia" tidak ada yang mau berhenti dari atas. Katanya tinggal 2 orang, nyatanya 2 kampung.

Pos I. sudah sampai disini. Gerimis mulai datang lagi. Nampaknya kami memutuskan untuk cukup. Istirahat dan berfoto sejenak. Mereka berdua bilang “pikir ulang” kalau mau ke sini. Ku bilang, nanti kalau kering ke sini lagi. Mereka tetap pikir ulang. Turun sekarang. Zara malah terpeleset, aku dan Windy hanya syok. Penuh lumpur celananya. Saat turun berkenalan dengan pemuda-pemuda asal Jawa juga. Mereka sangat membantu.

Sampai bawah sudah berkemas dan membersihkan diri. Kami tak belok kiri yang katanya ada embung yang indah. Langsung saja menunju Pantai di selatan sana. Hingga sampai sana hujan deras mengguyur separuh perjalanan. Dan yang paling menyebalkan MACET. Membuat mual. Membuat sedih dan pingin berputar ke
arah lain saja. Maka pantai terdekat jadi pilihan. Pantai Sepanjang. Kami bahagia. Walau hanya duduk-duduk saja. Kami merasa semakin bahagia, karena laut yang luas sudah membawa pergi kekesalan kami sebelumnya.
Terimakasih Yogyakarta. Terimakasih Nura. Terimakasih Nanda. Dan Terimakasih Windi dan Zara.


Galeri Foto:
Gunung Api Purba

sudah sampai pantai
#CukupDudukSaja


 Hari Kedua di Yogyakarta: Mengunjungi Museum 3D De Mata

 

 Terimakasih Yogyakarta
 

 *All photo edited by Zara











Rabu, 15 Januari 2014

Mirror | Reflection

Mirror | Reflection (Bama Beach) | photo by: vandi
Kepulan asap dari secangkir kopi panas itu sudah mulai menipis. Ampasnya pun sekarang mulai turun kedasar. Aku tetap di sini. Tak beranjak sejak sore tadi.
***
Aku sangat nyaman dengan keadaan ini. Kamu berbeda dari yang lain. kamu seperti tujuan hidupku kelak. Walau aku tak tahu pastinya, karena tentu ada yang sudah tertulis di suratan takdirku. Kita memutuskan untuk mejadi teman baik. sahabat kala senja dengan secangkir kopi dan segelas susu putih hangat. Nampaknya beda. Namun jika kita menyatu akan menjadi perpaduan yang nikmat. Rasa yang nyaman. Rasa saling menerima pahitnya rasa kopi dan manisnya rasa susu. Kita juga sama-sama memutuskan untuk tidak menjadikan hubungan ini rumit. Sahabat. Itulah nama kita berdua. Walau kita sama-sama tahu ada rasa lain yang pelan-pelan menyusup dan tentu saja kita saling menepisnya. Tapi akhir-akhir ini malah aku yang kewalahan dengan rasa ini. benih-benihnya mulai merambat disekujur tubuhku. Ya aku memang telah jatuh cinta.
Aku memilihmu bukan karena aksara, tapi lebih karena aksi nyata. Kau tidak pernah memanjakanku layaknya lelaki pada umumnya. Mandiri. Sepertinya kata yang tepat untuk gayamu bersosialisasi. Membuatku betah berlama-lama menunggu balasan pesan singkatmu. Tanpa gelisah tak menentu. Kau mengajariku itu. Membiarkan rasa rindu terus menggantung di dimensi bernama pikiran. Agar aku tak manja. Dan agar aku tak menghabiskan waktu menunggu dengan hal yang sia-sia. Diakah? diakah yang Kau tulis namanya bersamaku di lembaran takdir milikMu? Diakah yang tangannya akan menggengam tangan ayahku dan membuatku berpindah posisi dari anak ayah menjadi seorang istri? Semoga hari ini adalah jawabannya.
//Jam 4 sore ya di tempat biasa. Ada yang ingin kusampaikan. :) //
// OK. //
Pesan singkatnya membuat aku gelisah. Membayangkan dia mengucapkan kalimat lamaran. Membayangkan pipiku memerah malu-malu. Dan menjawabnya dengan yakin bahwa aku mau. Bayangan-banyangan ini membuatku lupa bahwa waktu terus berjalan. Jam dinding menjadi menyebalkan karena rasanya dia berlari lebih cepat ke angka empat. Hingga akhirnya aku sudah berada di sini. Lebih cepat 5 menit darimu yang berlari-lari kecil menghampiri meja nomor 19.
“ Maaf terlambat, kamu sudah lama?” katanya tersenyum sambil menarik kursi. Duduk.
“Baru lima menit, santai saja.” Jawabku membalas senyumnya.
Sambil menunggu pesanan masing-masing. Kita bicara banyak hal. Layaknya sahabat lama yang tidak pernah bertemu. Tertawa dan kaget saat ada hal baru yang baru kita dengar. Membicarakan alasan kau datang terlambat, kerjaan kantor yang semakin banyak, rencana liburan akhir tahun, hingga masalah jodoh. Inilah yang paling kutunggu. Semoga  saja pembicaraan berikutnya seperti yang kuharapkan.
“Sebenarnya kalau bicara masalah jodoh aku masih abu-abu. Masih meraba-raba siapa dan seperti apa dia kelak.” Diam sejenak. Dia menunduk, seolah memikirkan sesuatu. Bercerminlah. Aku disini siap memantulakan banyanganmu. Bukankan jodoh sangat mirip dengan diri kita? Aku siap jadi cerminmu. Dia mulai bicara lagi. Dengan masih menunduk.
“Tapi aku merasakan sesuatu yang lain kala kita bersama.” Dia mulai mengangkat kepalanya. “Kau pasti sudah mersakannya bukan? Ada rasa yang lebih dari sekedar sahabat di antara kita.” Aku mulai menata diri. Agar tidak terlihat terlalu canggung. Tidak pula terlihat bodoh dan terlalu berharap. Lanjutkan,,lanjutkan.
“Aku rasa kita bisa menjadi lebih.” Aku hanya diam dan memberi tatapan yang mengisyaratkan sebuah pertanyaan. Dengan mengkerutkan dahi dan memincingkan mata. Lanjutkan, batinku menyeruak.
“Begini. Bisakah kita menjadi lebih dari sahabat?” Susah sekali kau bicara, sesusah aku menyembunyikan rasa. Bibirku serasa tertarik ke atas. “Kita.” Hening sebentar. “Jadi sepasang kekasih.”
“Kekasih?” tak tahan aku diam.
“Ya, sebutlah itu pacaran.” Senyumnya lebar sekali.
“Pacaran?” wajahnya yang bahagia semakin bergeser ke mimik muka penuh pertanyaan. Apa ada yang salah? Aku bingung menjelaskannya. Yang ku inginkan pernikahan. Aku ingin menyempurnakan ibadahku. Bukan yang lain.
“Datanglah ke rumah bersama keluargamu, jika kau berkenan.” Aku memakai kalimat lain yang bermakna sama. Lamarlah aku. Kita menikah.
“Maksudmu menikah?” Wajahnya tiba-tiba syok. Apa yang salah. Ku jawab dengan raut muka. “Kamu terlalu cepat, Sarah. Menikah itu tanggung jawab yang besar. Keluarga, anak, rumah. Masih banyak yang harus kita kejar.”
“Kita bisa mengejar yang lain disaat yang bersamaan.”
“Ya, paling tidak dengan tidak menikah dulu. Pendekatan juga perlu bukan? kita pacaran dulu lah, dua tiga tahun.”
“Aku kira kita satu pemahaman, bukankan sudah jelas mana yang dihitung ibadah dan mana yang tidak. Aku tidak mau menghabiskan tahuanan bersamamu hanya untuk hal lain. Pengenalan. Masih kurang?”
“Tapi, kita kan ngga ngapa-ngapain.” Diam kembali merajai. Namun pikiran kita berbicara banyak hal. “Maaf, jika untuk menikah aku tidak siap dan belum berpikir ke sana. Sebaiknya kita berteman saja dulu.” Hening kembali menyeruak. Bahkan ucapan terimakasih lenyap saat pramusaji datang meletakan secangkir kopi dan segelas susu putih hangat. Dia mulai resah.
“Aku belum siap.” Aku hanya bisa menunduk. Sama dengannya. Tapi sedetik kemudian dia beranjak berdiri. Membuat kepalaku ikut mendongak. “Rasanya ada yang perlu sama-sama kita pikirkan. Aku permisi.” Dia mulai melangkah, berbalik arah dan berjalan ke pintu keluar.
Aku membiarkannya pergi. Tanpa sekalipun memanggilnya dengan lantang atau hanya dalam diam. Bukankah sebuah kalimat dalam puisi atau prosa membutuhkan spasi diantara kata-katanya. Agar bisa terbaca. Agar bermakna. Maka, itulah kita. Aku akan membuat jarak dan jeda diantara kita. Karena aku masih yakin itu kamu. Yang tertulis nanti di undangan pernikahanku. Aku hanya perlu menunggu. Menunggumu berbalik arah dan menjadikanku cerminmu.
#ShortStory

teman