Jumat, 23 Oktober 2009

Rasa Sayange terhadap Indonesia

“Rasa sayange
rasa sayang sayange
ee lihat dari jauh
rasa sayang-sayange”
Jika melihat lirik lagu ini, kita akan teringat akan kenangan kita saat berada disekolah dasar. Lagu ini kita nyanyikan dengan penuh keceriaan dan semangat. Dengan suara khas anak SD yang keras dan tidak karuan, tapi semua itu kita nyanyikan dengan rasa senang dan bangga. Sekarang lagu itu membuat gempar bangsa ini. Lagu yang kata guru kita bilang dari Maluku, sekarang diakui atau diklaim oleh negara tetangga kita. Malaysia. Negara satu rumpun. Satu nenek moyang katanya. Negara itu mengklaim lagu milik saudaranya sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi dengan negara kita? Apa yang menyebabkan kebudayaan kita banyak diakui oleh negara lain? Kemana saja kita, sampai lupa akan menjaga kebudayaan negri sendiri?
Rasa Sayange itulah lirik pertama dari lagu ini. Dari liriknya tersebut lagu itu telah mengingatkan kita akan rasa kasih sayang. Rasa sayang kita terhadap Tuhan, terhadap sesama, terhadap lingkungan dan terhadap negara. Rasa sayang terhadap negara itulah yang kini keberadaannya semakin memudar. Lirik tersebut seolah mempertanyakan dimanakah keberadaan kita bangsa Indonesia dalam mempertahankan kebudayaan nusantara, khususnya lagu daerah. Apakah sikap yang tak peduli dengan budaya sendiri ini akan kita turunkan kepada anak cucu kita nanti? Jika benar, sikap tak peduli inilah yang akan menjadi senjata utama bagi bangsa lain untuk meraup keuntungan dari kekayaan budaya kita.
“Mana kancil akan dikejar
kedalam pasar cobalah cari
masih kecil rajin belajar
sudah besar senanglah diri”
Bait kedua dari lagu ini mecoba mengingatkan kembali tentang pendidikan bangsa ini. Rajin belajar. Itulah kata kunci dari bait ini. Jika melihat keadaan bangsa ini, tentu kita akan disuguhi pemandangan banyak anak tak sekolah, gelandangan, dan orang-orang yang putus sekolah. Seakan bangsa kita Indonesia kurang peduli akan pendidikan anak-anaknya. Padahal mereka adalah generasi-generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini. Apabila generasi penerusnya tidak berpendidikan, mau dikemanakan nasib negara kita ini. Akibat dari pendidikan yang rendah di negara kita ini salah satunya ya klaim lagu Rasa Sayange yang sebenarnya lagu dari daerah di timur Indonesia itu. Seharusnya semua kebudayaan Indonesia atau hasil cipta dari negara ini langsung dibuat hak kepemilikan. Hak yang menyatakan benar tentang hak cipta sebuah karya seni. Bukan setelah diklaim oleh Malaysia kita baru berteriak-teriak, menghujat dan menyalahkan mereka. Salah siapa kalau begini jadinya. Kita baru kelabakan untuk mengumpulkan bukti bahwasanya lagu tersebut adalah milik kita. Malaysia memanfaatkan kekurangseriusan bangsa ini, mencari kelaemahan Indonesia untuk dengan mudahnya menyerang Indonesia, dalam hal ini kebudayaannya.
“Si Amat mengaji tamat
Mengaji Quran diwaktu fajar
Biar lambat asal selamat
Tak kan lari gunung dikejar”
Inilah gambaran bangsa kita. Biar lambat asal selamat. Cara pandang orang Indonesia dalam menyikapi perubahan untuk bangsanya. Bagaimana pertumbuhan negara kita tidak tertinggal dengan Malaysia, kalau cara pandang kita saja masih lambat. Jika boleh kita mengibaratkan, Indonesia baru berjalan satu langkah sedangkan Malaysia telah ribuan langkah mendahului kita. Cara pandang itulah yang harus kita ubah agar kita lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan kita dengan bangsa lain didunia. Tetapi ingat cepat saja tidak cukup, kita juga harus punya kemampuan dan pemikiran yang benar dalam pengambilan keputusan.
Dari gambaran di atas, dapat kita simpulkan bahwa pengklaiman lagu Rasa Sayange tidak sepenuhnya salah Malaysia. Tetapi negara kita tercinta Indonesia juga mempunyai banyak catatan hitam dalam pertahanan menjaga kebudayaan bangsanya. Sikap yang kurang peduli dengan budaya sendiri, harus segera dibenahi. Kita dapat mensiasatinya dengan cara mengadakan pertunjukan atau pentas seni dengan menyajikan tarian daerah, lagu daerah, serta kasenian lainnya di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, maupun kampung-kampung disekeliling kita. Hal ini dilakukan untuk menunjukan keseriusan kita dalam melestarikan budaya Indonesia. Juga sarana untuk memperkenalkan kebudayaan suku lain agar kita tidak hanya tahu seni-seni dari suku kita sendiri. Kesalahan lain adalah kurangnya perhatian negara dalam pendidikan. Masalah ini bisa diatasi dengan cara menggratiskan sekolah-sekolah, memperbaiki mutu pembelajaran, serta meningkatkan kualitas para pengajar. Dan yang terakhir adalah mmengubah cara pandang kita untuk lebih tanggap dan cepat dalam merespon sebuah perubahan. Tetapi janagn lupa tetap dengan tindakan yang bisa dipertanggungjawabkan dan tidak asal bergerak cepat. Saya yakin seluruh rakyat Indonesia mempunyai harapan besar. Harapan agar kejadian kelam tersebut tidak akan terulang lagi. Indonesia kami ingin menghapus lukamu!
“kalau ada sumur di ladang
boleh kita menumpang mandi
kalau ada umurku panjang
boleh kita berjumpa lagi”

Dian Auliawati Purnama
09/282458/EK/17552

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

teman