Selasa, 26 Juli 2011

yang kau anggap teman


Kamu butuh audiens bukan teman. (Dee, “Madra”, hal 141, 2011)
Pertemuan ini kita yang rencanakan. Pada hari ketika semua orang sedang berlibur jika mereka tinggal di Indonesia. Sebuah hari raya. Mungkin juga untuk kita. Karena kita bertemu pada hari itu.
Pertemuan ini memang kita rencanakan. Tepatnya kau yang mengajakku dan aku dengan sangat senang langsung mengiyakan. Kenapa? Karena kita memang sangat jarang bertemu sejak kita terpisah oleh kota untuk mencari apa yang mereka sebut sebagai rutinitas setelah tamat sekolah.

Hari itu aku bergegas untuk segera bertemu denganmu. Kunaiki bus yang dulu sering kupakai jika aku akan pergi ketempat biasa kita dan teman-teman kita berjumpa. Tepat saat aku melangkah turun dari bus aku melihatmu. Dengan pakaian senada dengan warna daun-daun disekelilingmu. Saat itu aku juga melihat guguran bunga warna kuning yang tersebar disekeliling kita. Sungguh pemandangan yang sangat indah yang pernah kulihat.

Tak ada yang lain darimu ketika kujabat dan mulai tersenyum padamu. Kau masih seperti kau yang dulu. Namun saat kau tiba-tiba bicara, aku merasa ada yang lain. apa itu? Aku juga tak tahu.

Kau bicara dan terus bicara. Kau ceritakan padaku semua hal yang kau alami tanpa aku. Dari tempat kau tinggal, tempat yang mereka sebut sebagai rutinitas setelah tamat kuliah, lelakimu, orang-orang barumu yang aku belum pernah mengenal atau melihatnya. Awalnya aku yakin ini masih kau. Dirimu yang memang sangat antusias ketika bercerita hal yang kau alami tanpa aku. Namun, aku merasa ada lain setelahnya. Apa itu? Aku masih mencarinya.

Ditempat itu kita berjalan, berjalan beriringan dalam suatu hari ketika makhluk hidup lain sedang ikhlas untuk mati. Dan saat itupun kau terus berbicara dengan ikhlas. Aku? Aku masih terus mendengar pula dengan ikhlas. Apakah ini yang berbeda. Mungkin.

Kita menemukan suatu tempat baru. Tempat dimana kita harus melewati jalan-jalan yang naik turun. Hingga akhirnya sampai pada tempat itu. Tentu saja masih dengan bibirmu yang terus bergerak. Naik dan turun. Di tempat itu kita makan.

Setelah berjalan jauh dan menemukan persinggahan untuk makan, rasanya aku sangat lelah. Entah mengapa, bahkan biasanya akupun tak pernah mengalami hal ini. mataku, kakiku, telingaku, hatiku. Hatiku? Entah mengapa hatiku juga merasa lelah. Saat kau bicara lagi, aku memandangmu lagi. Mencoba menyimak apa yang kau katakan. Kali ini tentang cintamu yang membuatmu mabuk. Tiba-tiba cerita itu berganti dengan kejadian ganjil yang menimpamu beberapa waktu terakhir. Tiba-tiba berganti lagi dengan kehidupanmu bersama kawan barumu. Yang lebih suka kau anggap mereka sebagai musuh.
Belum sempat aku berkomentar tentang satu hal, kau sudah mengalihkan lagi cerita yang lain. seakan aku ini tak harus berkomentar. Akalku harus bergerak cepat untuk memberi komentar tentang ceritamu yang kadang kau abaikan.

Handphoneku bergetar. Namun kau masih bergumam. Tanpa lelah. Tanpa jeda. Hingga akupun sungkan untuk sekedar melihat pesan yang singgah d handphoneku.
Kalimatmu mengalir bagaikan air terjun yang tak henti turun. Kekuatannya tetap sama walau sudah jatuh puluhan tahun. Aku hanya bisa berucap, “oh..ah..benarkah?..jadi begitu”.
Kaupun tak peduli dengan argument yang kadang kukeluarkan. Yang semakin kesini semakin menunjukan kekesalan. Kau seolah berbicara disebuah mimbar. Berpidato tanpa harus ditanggapi ataupun mengetahui apa yang orang lain ingin katakan.
Tapi ini aku, teman. Aku adalah orang yang ingin kau dengarkan kisahnya. Kisah yang kulalui tanpamu. Kisah yang kau tak tahu karena kita jauh. Tapi mengapa kau seolah bicara tanpa peduli apa yang kuinginkan. Bukankah kita bertemu untuk saling berbagi.

Kemudian saat makanan datang, kau mulai agak terdiam. Namun ini tak berselang lama. Kau bicara lagi. Mengguruiku tentang makanan yang kumakan dan menjelaskan makanan yang kau makan. Baik. aku tahu kau ahli. Tapi biarkan aku makan sejenak.

Dalam perjalanan untuk mencari bus yang kutumpangi untuk pulang. Aku masih berjalan didekatmu. Dan kau masih bercerita. Lagi-dan-lagi. Bahkan taukah kau kadang ceritamu sudah kau ulang lebih dari dua kali. Tapi aku mulai menyadari satu hal. Disini aku kau butuhkan sebagai tempat sampahmu yang kaucari. Yang selama ini tak ada yang mau mendengarmu. Mereka yang kusebut teman barumu, yang lebih suka kau sebut musuhmu.

Disinilah kau mencari teman lama yang kau anggap teman, tapi tak kau perlakukan layaknya teman.
Teman bagiku adalah saling berbagi. Bagiku saling memberi. Tapi kau tak mau mendengarkan kisahku.
Tak apa. Sampai disini aku tahu. Apa yang kutanyakan saat kau mulai bicara tadi. Saat aku janggal ini bukan kau.

Benar, kau telah berubah. Mungkin fisikmu tidak. Tapi tingkah dan perbuatanmu aku yakin ya. Berubah. Manusia memang terus berubah. Begitu pula kau. Dan aku. Dan aku menemukan jawabannya saat melangkahkan kakiku di bus yang mengantarkanku pulang. Yang kau masih sempat-sempatnya bercerita saat aku sudah masuk pintunya. Ya, kamu butuh audiens, bukan teman. Itu sebabnya teman barumu tak mau berbicara, karena mereka tak kau dengar sebagai teman.

Aku masih berharap kau berubah. Mungkin bukan aku, sebagai dewa penolongmu. Yang akan menyadarkanmu. Karena aku hanya pengecut yang tak mau menyakiti hatimu. Tapi aku yakin keadaan nantilah yang akan menyadarkanmu.

Jangan kau kuasai keadaan dengan bibirmu. Pahamilah dengan telingamu. Cobalah dengarkanlah mereka yang mencoba menyadarkanmu. Dengan mendengar kau akan tahu. Kau akan tahu apa yang mereka mau. Hatimu akan terbuka, karena itu hanya bisa kau lakukan dengan mendengar.
Teimakasih.

Aku masih disini.
Masih ingin kau anggap sebagai teman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

teman