Minggu, 03 Mei 2015

Ketika Rasa Syukur Menemukan Tempat Berlabuhnya

“Mereka datang seperti udara. Selalu hadir bahkan ketika rasa asing sering kali ikut campur."


Rasa syukur itu perlahan-lahan mulai memenuhi hati. Tiada lagi tanda tanya yang mengarah pada perlawanan. Cukup dan tidak berlebihan.

Menjalani tujuh bulan di tanah ini rasanya sudah tak lagi asing. Pertanyaan dan tanda tanya yang dulunya selalu bergeming ketika sedang hening, mulai menemukan jawabannya. Disini saya sadar bahwa ternyata semua doa terjawab dan terkabulkan. Tentu, dengan berbagai wujud dan waktu. 

Doa saya dulu simpel saja. Hanya ingin mengunjungi berbagai belahan bumi Indonesia. Ia mulai menjawabnya dengan pulau kecil di samping pulau Dewata. Itulah sebuah titik dimana saya tersadar. Sebait doa saya terwujudkan. Begitu mudah dan lancar. Memenangi hadiah yang tak disangka-sangka dari Nya. Dan dihari pertama menginjakkan kaki di pulau tersebut ada benang takdir yang bersiap menyulam jalan hidup saya. Pulau di ujung timur Indonesia menentukan arah takdir saya selanjutnya. Awalnya memang saya kaget dan tak menyangkanya. Membanyangkan menyelami pulau yang gelap tanpa orang-orang terbaik yang selama ini setia membersamai kenyamanan bertumbuh. Membanyangkan menginggalkan tanah gemerlap yang memanjakan raga hingga keraguan dan kegamangan menyeruak disekujur tubuh. Namun ini juga ternyata jawaban doa simpel saya sebelumnya.

Dan ternyata menjadi bagian dari pekerjaan saya sekarang masih menjadi jawaban doa tersebut. Pekerjaan ini, mengizinkan saya menginggalkan jejak demi jejak di wilayah yang benar-benar baru dan tentu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pekerjaan ini, yang dulu pernah saya sesali ternyata menerbangkan saya ke titik-titik tak terjangkau akal pikiran maupun alam bawah sadar saya. Pekerjaan ini pula, yang memberi saya peta baru untuk menemukan harta karun ciptaan-Nya dan mengambilnya dalam bentuk syukur.

Itu baru satu doa. Ada doa lain yang ternyata Dia realisasikan dan Alhamdulillah saya menyadari realisasi doa itu. Ini menjadi modal awal saya untuk bersyukur. Rasa sadar. Doa agar selalu bersama orang yang baik dan memiliki kawan yang berlimpah. Kesadaran itu muncul begitu saja. Di tempat-tempat yang hangat akan tawa dan gurau. Di kursi dan meja kayu dengan secangkir kopi dan roti. Di pinggiran laut atau liku jalan yang berlobang besar-besar. Di hutan dengan bau kayu, daun dan tanah yang sangat harum. Mereka datang seperti udara. Selalu hadir bahkan ketika rasa asing sering kali ikut campur. Walau terkadang menjadi bahan mentah untuk di bully  atau menjadi badut di tengah panggung bernyanyi, mereka pada dasarnya menyayangi. Mereka adalah jelmaan keluarga yang membersamai kehidupan masa lalu saya. Yang menjadikan rasa nyaman berada di tempat asing. Mereka bisa menjadi sosok ibu yang selalu mengingatkan, mengasihi, dan perhatian. Mereka bisa menjadi sosok ayah yang melindungi dan menghangatkan. Mereka bisa menjadi sahabat baik yang menghadirkan tawa lepas dan menangkal kesunyian serta keheningan tak lagi terasa canggung.


Tujuh bulan di tanah ini memberi saya banyak "pengertian"
Bahwa keindahan datang adalah ketika kita sadar untuk bersyukur.
Bahwa doa adalah jimat paling berkhasiat untuk penghilang firasat.
Bahwa jawaban doa tak hanya satu bentuk tapi mempunyai banyak turunan.
Bahwa keikhlasan adalah rasa ternyaman yang hati kita ingin rasakan.
Bahwa melepaskan adalah wujud tertinggi rasa cinta terhadap sesama benda.
Bahwa pertemuan dapat berlangsung lama tapi tak selamanya.
Bahwa perpisahan adalah tanda bahwa kehidupan memiliki ujung tanpa nama.
Dan bahwa saya masih belum bisa bersahabat dengan perpisahan adalah tanda hadirnya air mata.

Terimakasih Ar-Razzaaq atas segala berkah Mu yang tak kan bisa terhitung.
Terimakasih Al-Khaliq yang menciptakan kawan sebagai perpanjangan tangan.
Terimakasih Al-Samii' yang mampu mendengarkan walau kata tak terucap.
Terimakasih Al-Baasith yang memberi kelapangan hati agar tak mudah sakit hati.
Terimakasih At-Tawwaab yang selalu menerima taubat meski berkali-kali hambanya tergelincir di tempat yang sama.
ALHAMDULILLAH. 

Biak, 3 Mei 2015 
=PAPUA, INDONESIA=
Foto diambil di Monumen Perang Dunia Ke II di Biak Numfor, Papua


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

teman