Selasa, 23 Oktober 2012

Pelangi di Bulan Juli

Aku ingin menuliskanmu. dalam sepenggal cerita masa lalu. manis. indah untuk dikenang. Agar dunia tahu tentangmu dan kisah kita di tengah tahun ini.

Hari ini hujan. Dalam rinainya aku seakan melihat sosokmu. samar-samar. Namun membuatku senang.
Apa kabar kau disana. Masihkah kau simpan warna itu. Tujuh warna yang menggodaku di tengah tahun ini. Seperti warna kehidupan. Kadang indah kadang suram.

Awalnya kau datang bagai mendung. Membuatku belum. Belum percaya siapa kau sebenarnya. Mendung yang penuh tanya. Sebenarnya apa yang kau bawa. Menerka-nerka seperti apa kau ini. Yang akan ku ketahui sebentar lagi.

Kemudian datanglah rintik itu. Perlahan tapi pasti membasahi diri. Mulai meresapi siapa kau ini. Tibalah saat itu. Saat dimana kita harus berada dalam satu atap. Yang aku tahu dan kau pun tahu. Akan ada penyesuaian disana.

Hujan itu datang dengan berbagai bentuk. Kadang deras dan kadang hanya rintik. Di bawah payung ini kita berteduh. Dan memahami siapa kita sebenarnya. Payung itu adalah tempat kita berpijak dulu. Sebuah tempat dimana air tercurah dengan sempurna. Bahkan ada telaga yang memberi ketenangan dalam diamnya. Di mana keramah tamahan selalu menyapa. Di mana kedinginan selalu menggoda. Kau tahu, dingin itu akan sirna ketika tawa itu ada.

Ditempat ini. Tempat kita mengabdi. Selama beberapa hari. Membuatku menemukan arti dari tujuh warna yang kau bawa. Aku mulai mengerti apa yang selama ini kutanyakan pada alam. Ketika kebosanan menyerang diminggu awal kita bersama. Kau mau tahu apa yang kurasakan?

Minggu pertama, kau hadir dengan rintik itu. Membuatku bosan dan ingin pulang. Malas aku menanggapimu yang hanya penuh basa-basi. Kadang hujan, kadang terang.
Minggu kedua, aku mulai paham apa yang harus kulakukan. Namun aku masih saja tidak tahu, kemana kita akan menuju. Muara untuk kita berlabuh. Namun aku mulai mengikuti arusmu.
Minggu ketiga, aku terus mengikutimu. Berlayar dari sungai satu ke sungai yang lain. mencari-cari cara yang tepat untuk menuju muara itu.
Minggu keempat. Kau sudah menjadi hujan. Terus membasahi hati dan pikiranku yang mulai hanyut akan kesenganan bersama rintiknya. Bahkan tak hanya hatiku yang basah. Membayangkan semua ini segera berakhirpun membuat mataku juga ingin mengeluarkan butiran-butiran hujan.
Minggu kelima. aku sudah menyerah. Kau sungguh indah. Kau bawa matahari yang selama ini kau simpan. Walau kadang masih bisa kulihat dalam hangatnya tawa. Kau padukan keduanya. Hujan dan matahari. Dan inilah yang kutunggu. Pelangi.

Aku bisa merasakan hebatnya pelangi yang kau bawa. Begitu indah ketika perpaduan hujan dan matahari bertemu dalam udara yang pernah kita hirup bersama. Lama aku memandangnya. Tentu saja bersamamu. Kalian lebih tepatnya.

Namun tiba-tiba semua hilang. Warna-warna itu mulai pudar. Satu persatu. Dan datanglah matahari itu. Yang akan kita bawa masing-masing. Matahari kita sendiri. Yang selalu menepati janjinya untuk terus bersinar. Setiap hari. Lalu dimana hilangnya pelangi itu. Ternyata mereka ada disini. Tak jauh. Mereka ada dihati. Untuk dikenang. Mereka bukan matahari. bukan pula hujan.

Merah. Jingga. Kuning. Hijau. Biru. Nila. Ungu.
Walau tentu masih banyak warna lain yang membentuk kenangan di tengah tahun ini.

Seperti melihat pelangi. Walau hanya sekejap. Namun keindahannya akan kita simpan disini. Dihati. Bukan matahari yang selalu berjanji untuk bersinar tiap hari. Terimakasih untuk tujuh warnamu yang indah itu. Melengkungkan senyuman diluasnya langit. Terimakasih untuk keindahanmu. Terimakasih sudah menjadi pelangi di bulan Juli-ku. Selamat menjadi pelangi dibelahan bumi yang berbeda. Tapi aku yakin, suatu hari pasti kita akan dipertemukan lagi oleh hujan dan matahari. #KKNUNIT96
KKN UNIT 96

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

teman