Jumat, 08 November 2013

Saya Mau Bicara dengan Anda

Waktu tidak bisa menyembuhkan, dia hanya membuat kita lupa. (Reza Gunawan).


*baca dengan perasaan intonasi marah (Ingat, hanya intonasinya saja)*

Untuk Anda yang namaya seperti wanita. Saya tidak tahu Anda sebaik apa. Karena memang saya tidak mengenal Anda mendalam. Tapi saya ingin bicara dengan Anda tentang sebuah pengorbanan. Saya tahu kita tidak akan bisa mengobrol panjang, karena saya juga tak mau. Sekali lagi saya hanya ingin memberi tahu tentang sebuah pengorbanan. Pengorbanan untuk Anda tentunya.
Foto: Lukisan di WaterBlaster
Cerita ini berawal dari sebuah pesan singkat dari seorang teman baik saya. Pesan singkat bahwa dia bertemu dengan wanita dalam sebuah rumah makan. Apa yang dia sampaikan di pesan singkat itu? Dia merasa takut. Dia seolah ingin menghindar dan pura-pura tidak melihatnya. Lalu siapa sebenarnya wanita ini? Siapa juga teman baik saya yang mengirim pesan singkat di penghujung sore tadi? Apa hubungan mereka dengan Anda? Ya, mereka berdua adalah orang yang sangat Anda kenal. Yang satu pacar Anda saat ini dan yang satu calon pacar Anda dahulu, atau lebih tepatnya “selingkuhan” Anda. Tapi apakah Anda benar-benar mengenal mereka berdua secara utuh? Saya yakin tidak.
Teman saya sering bercerita kepada saya, betapa Anda yang sama seringnya bercerita kepada teman wanita Anda yang lain saat itu. Sudah tahu kan maksud saya disini? Pacar Anda, sampai menangis sesengukan. Pernah. Sampai tidak nafsu makan. Pernah. Lalu pernahkah Anda berpikir bahwa mengkhianati janji bisa membuat pihak lain terluka? Anda dengan seenaknya bemain-main dengan teman wanita Anda. Dengan baik hatinya mengantar pulang sampai rumahnya. Berkirim-kiriman pesan sampai larut malam dengan kata pemanis di penghujung berakhirnya pembicaraan. Coba tengok ke arah yang lain. Pacar Anda dengan sekuat tenaga menjaga hatinya untuk tidak tengok kanan kiri. Karena dia hanya fokus melihat ke depan. Yang dia yakini ada Anda di depan sana. Dia dengan segenap jiwanya mencoba untuk selalu memaafkan Anda yang dengan enaknya memakai pemberian maaf itu sebagai semacam izin untuk mengulanginya kembali. Kenapa? Mau menyela? Apa memang benar semua ini? Saya mohon dengarkan saya dulu.
Pacar Anda yang sangat sabar menghadapi Anda, apakah menurut Anda tidak trauma dengan kelakuan Anda itu? Anda pikir dia baik-baik saja saat memberikan maaf dan kesempatan bagi Anda untuk kembali menemani hidupnya? Anda salah. Dia yang Anda pikir baik-baik saja. Sebenarnya sangat takut. Sangat takut Anda melakukan hal yang sama. Lagi dan lagi. Dia selalu gemetar dan gentar saat melihat wanita itu melintas tak sengaja di depan mukanya. Dia bahkan takut dan “nyesek” saat ada nama yang sama dia jumpai di majalah atau dia dengar di radio. Dia yang selalu bertemu dengan wanita itu tanpa sengaja karena kota tempat tinggal yang sama. Bertemu di kampusnya. Bahkan di mimpi-mimpinya dan di pikirannya yang kadang membuatnya sering bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku tidak pantas ya untukmu? Kadang rasanya ingin saya gampar teman saya ini. Karena yang tidak pantas untuknya itu ANDA! Dia terlalu baik. memaafkan setiap kesalahan Anda. Merajut kembali benang-benang yang sempat bercabang ke rumah tetangga. Memberi kesempatan baru dan menguatkan diri setiap hari bahwa dia akan memperbaiki diri. Untuk siapa? Untuk ANDA.
Ada saat dimana saya ingin menyarankannya untuk melepas Anda saja. Tapi sekali lagi saya tekankan. Saya sama sekali tidak mengenal Anda. Saya hanya tahu Anda lewat cerita-ceritanya. Saya hanya berbicara dengan Anda seperlunya. Pembicaraan terbanyak saya dengan Anda ya lewat tulisan ini. jadi teman sayalah yang benar-benar mengenal Anda.
Hari ini lewat pesan singkatnya, dia berkata. Anda telah memilih dan dia pantas dipilih. Tapi menurut saya, Anda lah yang dipilih karena dia terlalu baik untuk Anda. Semoga Anda bisa merubah diri untuknya. Memperbaiki kelakuan Anda dan tidak akan mengulangi hal yang sama. Saya rasa ini saja. Jaga dia jika nanti Anda memang memutuskan untuk hidup bersamanya sampai mati. Terimakasih telah mendengarkan, maksud saya membaca tulisan ini.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

teman